PARADIGMA PEMBELAJARAN DI ERA Cyber
Oleh : Wulan
Life long education, belajar sepanjang hayat, statement ini menyiratkan suatu makna pembelajaran yang dinamis dari makhluk yang memiliki kelebihan pemikiran dan kemampuan sebagai makhluk pembelajar yakni manusia. Semenjak mengalami evolusi bentuk tubuh dan adaptasi terhadap lingkungannya, hingga kini, manusia juga mengalami evolusi dalam segi perkembangan kemampuan berpikir dan menganalisa. Semua itu tak luput dari adanya perubahan paradigma perkembangan cara pandang manusia terhadap hal-hal baru, pembelajaran yang tadinya hanya dilakukan berdasarkan insting belaka kemudian berkembang menjadi pembelajaran yang terorganisir sehingga memungkinkan manusia bisa mempelajari budaya dan pemikiran manusia lainnya dari belahan bumi dan lokasi yang berbeda. Maraknya institusi-institusi pendidikan pun mencerminkan mulai tumbuhnya kesadaran manusia akan pentingnya Pendidikan untuk peningkatan pembelajaran dan taraf hidup.
Seiring perkembangan teknologi, pembelajaran pun mengalami perubahan yang signifikan. Teknologi termasuk hal-hal baru yang memicu munculnya hal-hal baru lagi dibidang pembelajaran yang jauh berbeda dari pembelajaran di masanya. Kebutuhan manusia akan penguasaan teknologi mendorong terciptanya mata ajar yang terkait teknologi tersebut, seperti : pada awalnya komputer dititikberatkan pada proses pengolahan data, tetapi karena teknologi yang sangat pesat, saat ini teknologi komputer sudah menjadi sarana informasi dan pendidikan khususnya teknologi internet. Dalam hal pendidikan, komputer dapat dipergunakan sebagai alat bantu (media) dalam proses belajar mengajar baik untuk guru maupun siswa yang mempunyai fungsi sebagai Media tutorial, alat peraga dan juga alat uji dimana tiap fungsi tersebut masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan.
Sebagai media tutorial, komputer memiliki keunggulan dalam hal interaksi, menumbuhkan minat belajar mandiri serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa / anak. Tetapi interaksi komputer dengan manusia belum dapat menggantikan interaksi manusia dengan manusia, selain itu mempunyai kelemahan lain yaitu kemauan belajar mandiri yang masih rendah. Komputer sebagai alat uji memiliki keunggulan dalam keobyektifan, ketepatan dan kecepatan dalam penghitungan tetapi masih belum dapat menilai soal-soal essai, pendapat dan hal yang terkait dengan moral dan etika. Yang terakhir, sebagai media alat peraga, komputer mempunyai kelebihan dapat memperagakan percobaan tanpa adanya resiko, tetapi membutuhkan waktu dalam pengembangannya.
Maka pembelajaran di era teknologi computer yang diidentikkan dengan era cyber atau dunia maya jauh lebih bervariasi, bahkan berkembang lebih pesat, akses informasi dapat dengan mudah dijangkau meskipun tanpa melalui institusi Pendidikan. Ada kemungkinan seseorang yang mampu belajar mandiri tanpa melalui labeling Lembaga Pendidikan bisa memiliki kemampuan setara sarjana bahkan lebih jika bisa menghimpun informasi pembelajaran yang dibutuhkan serta menguasainya. Namun hambatan nyata yang juga dihadapi para pembelajar mandiri adalah berserakannya berbagai informasi internet dapat dengan mudah mengalihkan konsentrasi untuk menguasai bidang tertentu.
Meskipun arah pembelajaran di era cyber cenderung lebih mandiri, namun diperlukan fasilitator agar pembelajaran mandiri bisa berhasil, salah satunya untuk menghindari kebanjiran informasi internet yang tidak sesuai dengan informasi yang diinginkan.
Sedangkan pembelajaran bagi anak di era cyber menuntut kedewasaan orang tua untuk mengarahkan penggunaan teknologi bagi peningkatan potensi bakat yang dimiliki anaknya. Menurut pakar psikologi pendidikan, Prof. Dr. S.C. Utami Munandar, anak berbakat berbeda dengan anak pintar. “Bakat berarti punya potensi. Sedangkan pintar bisa didapat dari tekun mempelajari sesuatu,”" jika anak berbakat tapi lingkungannya tak menunjang, ia pun tak akan berkembang.” Maka orang tua maupun guru perlu memperhatikan teknologi mana yang bisa mengembangkan bakat si anak. Kalau teknologi yang digunakan adalah computer, hal yang perlu dicoba adalah dengan memperkenalkan program-program aplikasi (software) kreatif yang merangsang perkembangan syaraf motorik dan sensorik, bisa dengan aplikasi yang bersifat “edutainment” yakni perpaduan dari edukasi (pendidikan) dan entertainment (hiburan). Program aplikasi computer yang bersifat games edutainment ini bisa menumbuhkembangkan kreatifitas dan daya imajinasi. Perlengkapan multimedia yang tersedia juga bisa merangsang si anak untuk berkreasi sekaligus berinovasi.
Adalagi produk era cyber yang juga merubah paradigma pembelajaran, yaitu internet. Pembelajaran tak lagi dibatasi sekat ruang kelas serta komunikasi siswa guru atau siswa dengan siswa tak perlu lagi dilakukan dengan tatap muka langsung, cukup dengan berkomunikasi maya (chatting) atau mengirimkan modul maupun tugas melalui email. Untuk perkembangan pendidikan selanjutnya teknologi “Teleconference” (Konferensi interaktif secara on line dari jarak jauh) dirasakan sudah pantas di coba dan dikembangkan, karena dapat menghemat waktu, tenaga pengajar, kapasitas ruang belajar serta tidak mengenal letak geografis. Ilmu yang diajarkan pun tak sebatas modul baku yang dipersiapkan pengajarnya melainkan siswa bisa berselancar mengelilingi website-website ilmu sampai ke ujung dunia sekalipun, hingga kemungkinan besar batas ilmu antara guru dan siswanya sudah tidak lagi ada kesenjangan, bahkan bisa saja guru berbalik belajar pada siswanya. Melalui pembelajaran ini tercipta suatu hubungan guru dan siswa yang sama-sama menjadi insan pembelajar. Peran guru berubah hanya sebagai fasilitator saja.
Maraknya sistem pembelajaran jarak jauh memicu menjamurnya sistem pendidikan homeschooling (pendidikan jarak jauh), institusi pendidikan baku dengan sederet pengajar dan ruangan kelas yang megah tergantikan dengan sistem pendidikan rumahan dengan orang tua atau fasilitator lain sebagai pembimbing si pembelajar.*wulan—dari berbagai sumber-
1 comment Mei 22, 2007
MENDEPAK BAU BADAN & KETOMBE DENGAN JERUK NIPIS
Tanaman yang satu ini gampang ditanam dan banyak gunanya. Selain untuk pengobatan, juga merawat kecantikan. Tak heran jika kini ia banyak ditanam di pekarangan.
Jeruk nipis kini menjadi salah satu pilihan untuk ditanam di lahan sempit semisal pekarangan rumah. Kenapa? Selain rajin berbuah, cara bertanamnya pun mudah. Masih ada lagi. Buah jeruk nipis ternyata juga punya banyak manfaat, dari pengobatan sampai merawat kecantikan.
Jeruk nipis (Citrus aurantifolia) termasuk famili Rutaceae. Memang, ia bukan asli Indonesia. Berdasar catatan sejarah, sentra utama asal tanaman jeruk nipis adalah Asia Tenggara, kemudian menyebar ke Afrika, Eropa, dan Amerika Serikat. Tanaman ini masuk ke Indonesia dibawa oleh Belanda. Ada beberapa nama lokal untuk menyebut jeruk nipis, misalnya jeruk pecel (Jawa) atau jeruk mipis (Sunda).
Tenaman jeruk nipis berbentuk perdu, rimbun, dengan ketinggian sekitar 1,5-3,5 meter. Memiliki banyak cabang dan ranting berduri, perakarannya kuat dan cukup dalam. Warna permukaan daun hijau tua mengkilap, bagian bawahnya hijau muda. Bentuk daunnya bulat panjang dan tumpul pada bagian ujung. Bunganya menyembul pada pucuk ranting atau ketiak daun dan tersusun dalam bentuk karangan. Warna bunga putih kekuning-kuningan. Saat ini, ada 2 jenis jeruk nipis yang dikenal di Indonesia:
1. Jeruk Nipis Berbiji
Buahnya mengandung biji. Bentuk buah bulat, berukuran kecil (diameter sekitar 3,5-5 cm). Ujung buah tidak berputing, rata, bahkan agak menjorok ke dalam. Saat masih muda, buah berwarna hijau, tapi menjadi kuning kehijau-hijauan setelah masak. Buah jenis ini biasanya tumbuh bergerombol.
2. Jeruk Nipis Nonbiji
Sesuai namanya, jeruk nipis ini sama sekali tidak mengandung biji. Buahnya tumbuh tidak bergerombol, bentuk bulat lonjong berukuran sebesar telur ayam. Setelah masak, buah berwarna kuning mulus.
DEMAM PUN SIRNA
Buah jeruk nipis mengandung beberapa zat. Antara lain, asam sitrun, glikosida, lemak, kalsium, fosfor, besi, belerang, vitamin B1, vitamin C, asam amino (triptofan, lisin), dan minyak atsiri. Dengan kandungan sebanyak itu, jangan heran jika jeruk nipis sejak lama digunakan sebagai bahan pengobatan. Misalnya:
A.Turunkan panas anak
Sediakan 4 butir buah jeruk nipis, peras, lalu kukus airnya selama 30 menit. Saat masih hangat, campurkan 4 butir bawang merah yang telah dilumatkan dan sedikit ragi tape. Aduk sampai merata, lalu lumurkan ramuan ke sekujur tubuh anak.
B. Redakan batuk
Ingin batuk reda? Gampang, ambil saja sebutir jeruk nipis, peras, dan ambil airnya. Tambahkan madu atau kecap sesuai selera, lalu minum pagi dan sore hari selama 7 hari.
C. Usir radang tenggorokan
Sediakan 1 iris jeruk nipis dan sedikit kapur sirih. Olesi irisan jeruk nipis dengan kapur sirih, lalu panaskan dengan api kecil. Peraslah, dan minum air hasil perasan pagi dan sore hari. Lakukan rutin selama 3 hari.
***
CANTIK DENGAN JERUK NIPIS
Selain untuk pengobatan, jeruk nipis ternyata juga bisa dipakai untuk merawat kecantikan.
1. Mengusir bau badan
Peras jeruk nipis, campur dengan kapur sirih, lalu usapkan pada ketiak. Lakukan 2 kali sehari, pagi dan sore. Biarkan tetap menempel selama beberapa waktu sebelum dibasuh.
2. Mendepak Ketombe
Peras 3 buah jeruk nipis, lalu gosokkan air perasan pada kulit kepala. Biarkan selama 25 menit, lalu keramaslah. Ulangi dua sampai tiga kali, maka ketombe pun lenyap.
3. Merawat kulit muka
Kulit muka berminyak seringkali membuat penampilan jadi kusut. Ambil jeruk nipis, lalu belah menjadi dua. Gosok-gosokkan belahan jeruk nipis pada wajah. Kulit muka jadi putih halus, wajah pun jadi cemerlang.
4. Diet dengan murah
Caranya gampang, rajin-rajinlah minum air jeruk nipis. Sehari tiga kali: pagi, siang dan sore. Jangan heran jika tubuh jadi lebih ramping.
***
Add comment Mei 22, 2007
Al Quddus (1) – Sifat Ilahi
Setelah mengucapkan Syahadat, memohon perlindungan dan menilawatkan Al-Fatihah, Hudhur aba bersabda:
Salah satu dari sifat Tuhan itu adalah Al-Quddus dan saya akan menyampaikan di hadapan saudara-saudara beberapa contoh dari para ahli tafsir di zaman dahulu dan saya pun akan memberikan ke hadapan saudara-saudara tentang arti dari Al Quddus ini dengan sedikit tafsirnya.
Tajl-ul-Arus mengatakan bahwa Al-Quddus adalah satu nama Suci dari Tuhan dan yang berarti At-Thahir, yaitu bebas dari segala macam kesalahan dan kekurangan. Al-Mubaraq adalah Yang memiliki semua berkah-berkah; At-Taqdis berarti untuk mengkonfirmasikan bahwa Allah itu adalah tanpa ada kesalahan dan bebas dari segala kelemahan dan kekurangan.
Mufradat ar-Raghib mengatakan At-Taqdis adalah kesucian yang dianugrahkan oleh Allah, yang:
Surah Al-Ahzaab (33) ayat 34:
………………, dan Dia mensucikan kamu sesuci-sucinya.
Yang adalah ayat dari Kitab Suci Al-Qur’an yang telah mendefinisikannya; ini tidaklah berarti untuk menghilangkan kekotoran badaniyah, tetapi ini berarti untuk mensucikan jiwa dan rohani yang ada di dalam manusia.
Di dalam kamus lainnya dikatakan Quddus adalah satu Wujud yang keadaannya suci dan bebas dari segala kesalahan dan kekurangan, dan Dia itu memang suci di dalam segala halnya. Kemudian Al-Quddus itu berarti kesucian dan berkah; dengan arti yang kira-kira sama disebutkan juga di dalam Kamus Arab-Lexicon, Lisan-ul-Arab.
Hadhrat Muslih Mau’ud r.a. telah mengambil arti ini dari semua kamus-kamus di mana Al-Quddus itu berarti yang sempurna dalam kesuciannya. Bukan hanya bahwa Dia itu bebas dari noda dan ketidak-sempurnaan, tetapi Dia juga memiliki segala macam kualitas dan yang merupakan sebuah Wujud Yang memiliki segala kesucian serta bebas dari segala kesalahan; tidak ada pertanyaan yang timbul tentang adanya kesalahan atau kekurangan di dalam Wujud Allah itu. Tidak ada kesucian, keindahan dan kualitas-Nya yang seorang manusia itu dapat memikirkannya yang tidak ada di dalam Wujud dari Tuhan ini. Dia juga adalah perwujudan dari segala macam kualitas yang terdapat di dalam Wujud Tuhan ini dan juga kualitas-kualitas yang pikiran intelek manusia tidak akan mampu untuk dapat melihatnya dan itulah Yang Maha Kuasa dan Maha Besar dari Wujud Yang Al-Quddus ini.
Sekarang saya akan menyampaikan di hadapan saudara-saudara komentar dari para ahli tafsir yang mereka berikan terhadap sifat yang khusus ini. Di dalam Kitab Suci Al-Qur’an difirmankan bahwa malaikat berkata kepada Allah:
Surah Al-Baqarah ayat 31: ………. Dan mensucikan Engkau ………..
Penjelasannya dari ini adalah, tafsir Ruhul Bayan menerangkan bahwa wa nuqaddisu laka berarti: “Ya Allah bahwa segala kesalahan dan kelemahan itu tidaklah untuk Paduka Sri Baginda Yang Maha Agung, kami mendeklarasikan Engkau itu adalah bebas dari semua itu dan tak ada sesuatu apa pun yang akan digambarkan kepada Engkau” dan nuqaddisu laka adalah tambahan yang untuk ditekankan. Ada orang-orang yang menterjemahkannya bahwa kami itu menunaikan shalat adalah demi untuk-Mu dan juga dikatakan bahwa kami membersihkan dan mensucikan diri kami serta membuang semua hal-hal yang palsu demi untuk meraih ridha-Mu.
Allama Fakhruddin Razi mengatakan:
Surah Al-Baqarah ayat 31:
……. Padahal kami bertasbih memuji Engkau dan mensucikan Engkau.”
Bahwa ada orang-orang yang memperlihatkan keraguannya mengapa malaikat pada waktu penciptaan manusia itu berkata:
Surah Al-Baqarah ayat 31:
………….” Apakah Engkau akan menjadikan di dalamnya orang-orang yang akan berbuat kekacauan di dalamnya dan …………”
yang dengan memberikan pernyataan ini adalah sama dengan mengajukan keberatannya terhadap Tuhan.
Allama Fakhruddin telah menghilangkan keragu-raguan ini dengan mengatakan bahwa yang begini itu salah dan tanpa ada dasarnya, atas alasan:
Pertama-tamanya bahwa para malaikat itu telah mengaitkan keresahan dan kekacauan itu pada orang-orang dan bukannya kepada Adam di mana para malaikat itu mengatakan: wa nahnu nusabbihu bi hamdika wa nuqaddisu laka dan dengan ber-itu tashbih berarti bahwa Engkau itu dinyatakan sebagai bebas dari segala macam kelemahan dan kekurangan secara pisik, untuk menyatakan bahwa Dia itu bebas dari segala macam kesalahan dan kelemahan.
Dengan secara itu pula Allama Razi mengatakan bahwa Al-Quddus, sifat dari Tuhan yang berarti Al-Quddus itu digunakan untuk Tuhan, yang adalah untuk kesucian dari perbuatan Allah dan Yang kualitas dan sifat-Nya itu dan yang di dalam kata ini dengan arti yang lebih luas bahwa Wujud Allah itu adalah tanpa kesalahan dan kelemahan. Jika kalian harus menguji kualitas-Nya Dia itu, maka kemudian kalian itu harus memegang sifat Al-Quddus ini yang menjelaskan semua kualitas dan sifat-sifat dari Tuhan tersebut.
Hadhrat Khalifatul Masih Awwal r.a. mengatakan bahwa dengan menterjemahkan arti dari Kitab Suci Al-Qur’an ini, kalian harus membuat artinya yang hakiki di bawah sifat Al-Quddus-nya dari Tuhan. Tetapi, kalian itu haruslah ingat satu hal yang mendasar ialah sifat Al-Quddus Allah itu jangan sampai terganggu atau terpengaruhi. Kalian harus memperhatikan sifat Al-Quddus ini ketika kalian akan memberikan arti dari ayat-ayat Kitab Suci Al-Qur’an itu, yang kalian pun jangan sampai membuat sebuah arti yang memberikan efek pada sifat Tuhan Yang suci ini; bahwa semua perbuatan Dia itu dan semua perintah-Nya itu adalah bebas dari segala kesalahan.
Di dalam tafsir Ruhul Bayan dikatakan tentang nahnu nusabbihu bihamdika yang dengan berbagai keberkatan dari-Mu itu, maka orang itu akan dapat memberikan pujian kepada-Mu dan kami menerima Engkau bahwa semua yang salah itu bukanlah bagi Sri Paduka Baginda dan bagi Kesucian Paduka Baginda; ini adalah untuk mendefinisikan pelimpahan dari Tuhan; yang berarti arti yang bagaimana pun dari ketinggian dan kedudukan tinggi, arti apa pun yang adalah layak dari kedudukan-Mu, kami dengan ini memberikan pernyataan tentang itu. Apa yang tidak layak bagi-Mu kami dengan ini menyatakannya bahwa Engkau itu bebas dari hal itu.
Ada sebuah tafsir dari Ibn Katsir yang mengatakan bahwa di bawah nahnu nukassihu bihamdika wa nukaddisu laka, bahwa ini adalah ungkapan yang terkenal yang berarti shalat-nya dan berkatnya dari Tuhan. Banyak dari para sahabat, Abdullah bin Mashud dan sebagainya telah mengatakan: ushshalli laka bahwa Ya Allah kami mengerjakan ibadah shalat ini adalah demi untuk-Mu. Mujahid mengatakan arti dari ayat ini adalah bahwa kami itu menghormati-Mu, memuliakan Engkau dan menyatakan ke-Maha-pentingan Engkau.
Ada lagi artinya yang lain daro sahabat linnya bahwa apakah mengingkari Engkau atau melakukan sesuatu perbuatan yang tidak disukai oleh Engkau. Taksir berarti attarhiim attahhiir bahwa untuk menyatakan Keagungan-Nya dan untuk menyatakan tentang Kesucian-Nya. Subbuh berarti bahwa untuk menyatakan Allah itu terbebas dari segala kesalahan dan Al-Quddus itu berarti segala kesucian dan semua kebesran dan keagungan adalah melekat kepada-Nya. Tafsir selanjutnya mengatakan: nahnu nusabbihu bi hamdika berarti: “Ya Allah, kami menyatakan Engkau itu adalah suci dan bebas dari segala hal yang di-hubungkan kepada Engkau oleh orang-orang musyrik para penyembah berhala. Wa nuqaddisu laka berarti bahwa tentang apa pun yang tidak benar, yang orang-orang kafir dan musyrik itu mengaitkannya kepada Engkau itu maka dinyatakan bahw Engkau itu bebas dari hal itu semuanya.
Saya telah berikan rujukan dari Hadhrat Khalifatul Masih Awwal r.a. tentang Al-Quddus, yang kutipan sepenuhnya adalah, ia mengatakan: “Adalah benar bahwa langit dan bumi itu semuanya memuji kepada Tuhan. Setiap butir partikel menjadi saksi bahwa Dia itu adalah Sang Pencipta dan Kerajaan-Nya serta pemeliharaan kehidupannya adalah oleh Dia dan segala sesuatu itu menjadi permanent adalah dikarenakan oleh perlindungan-Nya, keberadaan-Nya. Juga bahwa Allahum Malik, jika Dia itu harus memberikan ganjaran dikarenakan Dia itu adalah Sang Majikan dan jika Dia itu menghukumnya adalah bukan untuk kekasaran atau kekerasan-Nya tetapi adalah untuk mengadakan reformasi pada mereka. Jadi, betapa demikianlah Tuhan ini Yang Al-Quddus? Bahwa kami itu tidak melihat sesuatu dari sifat-Nya yang dapat merugikan atau merusakkan, bahwa Dia itu memiliki semua kualitas yang baik dan bebas dari segala kesalahan dan kekurangan. Dengan tidak merenungkan pada Kitab Suci Al-Qur’an, dengan gagalnya untuk dapat mengerti akan falsafah dari sifat Tuhan itu, mereka telah menciptakan pandangan yang salah ini bahwa kadang-kadang mereka itu memberikan arti pada sifat dari Allah yang bertentangan dengan sifat-sifat yang lainnya. Beliau mengatakan, saya menyampaikan kepada kalian satu prinsip bahwa kalian itu harus senantiasa memperhatikannya pada saat kalian sedang memberikan arti dari ayat-ayat Kitab Suci Al-Qur’an itu bahwa kalian tidak akan memberikan arti pada ayat-ayat ini yang bertentangan dengan sifat dari Tuhan itu. Kalian itu harus selalu memperhatikan sifat Tuhan ini dan kalian harus memberikan arti yang sedemikian dengan berpikir dan memastikan bahwa artinya ini tidak merugikan pada sifat Al-Quddus-Nya dari Tuhan itu. Karena, di dalam Kamus Lexicon terdapat bermcam-macam arti untuk satu kata yang sama. Seseorang yang punya ketidak-sucian di dalam hatinya dapat memberikan sebuah arti yang salah dan menolak maksudnya dari Kitab Suci Al-Qur’an. Tetapi jika kalian selalu memperhatikan bahwa arti apa pun yang kalian berikan terhadap Kitab Suci Al-Qur’an, kalian itu harus memastikan bahwa arti ini tidak bertentangan dengan sifat Al-Quddus-Nya dari Tuhan. Pada semua kata-kata firman dari Tuhan itu dipenuhi dengan kebenaran dan kebijaksanaan yang merefleksikan kebesaran dari Utusan-Nya. Di sini saya juga menyebutkan peringatan dari Hadhrat Khalifatul Masih Awwal bahwa dengan rujukannya itu beliau telah memberikan suatu peringatan yang indah dan penuh kecintaan bagi semua para Ahmadi. Setiap Ahmadi itu harus menyadarinya dan untuk berlomba-lomba, apakah yang kayanya atau yang miskinnya, atau apakah laki-lakinya dan kaum wanitanya mereka itu harus mencamkan hal ini di dalam hatinya, bahwa adalah perlu untuk mengadakan pensucian diri serta orang itu untuk menunaikan ibadah kepada Tuhan dan juga melakukan tugas dan kewajibannya terhadap sesama umat manusia. Orang yang buta huruf, mereka itu harus mengetahuinya bahwa mereka itu harus mendeklarasikannya bahwa Tuhan itu dengan perbuatan dan perilakunya itu. Bahwa mereka yang menjadi khadimnya dari Tuhan Yang Al-Quddus serta percaya pada Kitabnya Y.M. Rasulullah s.a.w., harus menjadi orang yang mengikuti Mujaddid ini, Sang Pembaharu dan Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. Jadi, untuk mendeklarasikan bahwa Allah itu suci dan terbebas dari segala kerusakan dan kekurangan itu hanya dapat dibuktikan dengan memperlihatkannya melalui praktek dan perbuatan kalian. Beliau bersabda, kalian itu mengetahui ada banyak orang-orang yang dapat meraih tingkatan ulama yang terpelajar walaupun orang ini tidak masuk sekolah, tetapi hanya dikarenakan mendengarkan pada orang lain dan ia pun memikirkan serta merenungkannya, apa perintahnya yang harus diamalkannya dan apa perintah yang berupa larangan-Nya itu, seperti yang contohnya yang sudah diberikan kepada kita oleh Y.M. Rasulullah s.a.w. Keteguhannya dalam kepercayaannya pada sifat Quddus dari Tuhan itu akan direfleksikan oleh seorang Ahmadi, jika ia itu mensucikan dirinya dan mensucikan hatinya. Hanya dengan demikianlah maka kalian itu dapat memimpin sebagai imam. Di tempat lainnya dikatakan bahwa kalian itu harus ingat bahwa Allah itu adalah Al-Quddus, tidak akan ada orang yang dapat menjadi kecintaan-Nya, kecuali jika ia itu orang yang suci. Untuk dapat memperoleh kedekatan kepada Tuhan adalah perlu untuk mensucikan dirimu sendiri dan untuk memperoleh kedekatan pada-Nya, kalian itu perlu bahwa doa-doamu itu diterima dan untuk bersujud kepada-Nya; tetapi sebelumnya itu, kalian ini haruslah berusaha untuk berdoa bagimu sendiri.
Dalam hal ini Hadhrat Muslih Mau’ud r.a. mengatakan bahwa keshalehan dari orang itu dapat diperoleh dengan amal perbuatan yang baik dan kemudian ia itu akan mendapatkan ganjaran atau menumbuhkan hal-hal yang baik padanya dan kebagusan dari Allah itu adalah yang pribadi, oleh karena itu Allah itu dinamakan Al-Quddus, tetapi orang ini tidak dapat disebut sebagai Al-Quddus, karena Tuhan itu adalah dengan tanpa suatu kesalahan apa pun, sedangkan manusia hanya dapat menjadi tidak salah itu dengan melalui usaha sehingga ia hanya dapat meraih quddus itu jika dengan usahamu, engkau itu dapat berusaha menghilangkan kekurangan dan kesalahanmu. Bukan saatnya untuk datang kepada Tuhan jika ia itu bersalah, tetapi perlu untuk menjadi sempurna. Tetapi seseorang manusia itu pertamanya adalah tidak sempurna, dan kemudian secara perlahan-lahan ia mencapai kesempurnaannya. Mula-mulanya ia itu anak-anak dan kemudian ia memperoleh akal intelligennya dan kemudian mulai mengerjakan shalat dan kemudian dengan shalat pada setiap harinya akan membawa dia pada tingkatan yang lebih tinggi, dan dengan 2 hari shalat dan berdoa akan membawa dia lebih maju, dengan 3 hari shalat dan berdoa akan membawanya ke tempat yang jauh lebih tinggi lagi, maka dengan cara inilah ia itu akan terus meningkat maju. Tetapi Allah, sebagaimana Dia itu sudah suci semenjak beberpa tahun yang lalu, dan Dia itu persis sama pada hari ini pun. Apakah Dia itu dengan sifat All-Quddus-Nya itu baru beberapa saat yang lalu ataukah sekarang lebih banyak lagi, Dia itu adalah Al-Quddus sejak zaman dahulu kala dan tetap demikian secara abadi. Seorang mukmin sejati dapat mengambil bagian dari sifat Al-Quddus Tuhan hanyalah jika mengikuti ajaran yang diberikan oleh Tuhan Yang Al-Quddus, ketika seorang mukmin itu maju di dalam keshalehan dan ibadahnya.
Kemudian Hadhrat Muslih Mau’ud r.a. mengatakan bahwa malaikat berkata: nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqaddisulak bahwa kami memuji Engkau dan menyatakan bahwa Engkau adalah Satu Wujud yang memiliki segala macam kebesaran. Kemudian beliau mengatakan selanjutnya ketika malaikat itu mengatakan hal ini, Allah berfirman bahwa Aku meengetahui apa yang tidak kamu ketahui. Memang benar seperti yang engkau katakan itu bahwa manusia akan menciptakan keresahan. Mereka itu akan menciptakan kekacauan, ini Aku ketahui tetapi engkau itu tidak tahu akan satu hal, bahwa sekarang kegiatan manusia itu akan berada di bawah undang-undang atau hukum syari’at. Mereka yang akan mengikuti hukum syari’at ini dan mereka yang akan maju di dalam keshalehannya, yang dapat mengambil bagian dari Al-Quddus, mereka itu akan melampaui kedudukan dari malaikat-malaikat. Inilah apa yang para malaikat itu ketahui. Dengan menerangkannya lebih jauh Hadhrat Muslih Mau’ud r.a. telah mengatakan bahwa satu hal yang patut untuk diingat ialah pada saat dijadikannya Adam itu, apa yang Allah firmankan itu adalah benar dan apa yang para malaikat itu katakan memang juga benar, tetapi pada pandangan yang berbeda. Yang Allah tunjukkan adalah kepada mereka orang yang suci yang dilahirkan dalam keturunan Adam dan yang dari kualitas kepengurusannya ditegakkan di bawah Adam. Tetapi para malaikat itu lihat adalah orang-orang yang pelaku tindakan kejahatan, orang-orang yang mengingkari perintah dari Allah, orang-orang yang menginginkan dan patut untuk menerima kemarahan dan kutukan dari Allah.
Dengan penciptaan dari Adamnya Allah ini dapat dilihat pada manifestasi dari Muhammad s.a.w. sedangkan para malaikat itu melihat pada orang-orang yang semacam Abu Jahal, yang di mana para malaikat itu mengkhawatirkannya. Walaupun benar apa yang ada dalam pikiran para malaikat itu tentang penegakan pengganti atau khalifah dari Tuhan itu adalah benar, tetapi kekhawatiran mereka terhadap kepengurusan yang sedemikian itu akan menjadi laknat bagi orang-orang, ini adalah salah. Karena kualitas dari kepengurusan itu dinilai dengan hal-hal yang baiknya dan bukan dari mereka orang-orang yang memperlihatkan kelemahan. Jika kalian itu meninggalkan amal perbuatan yang baik dikarenakan adanya campur-tangan bahaya maka kalian itu tidak akan maju. Setiap pekerjaan besar ada terdapat bahaya di dalamnya, sebagai contohnya seorang pelajar kadang-kadang kehilangan nyawanya dalam mencari ilmu itu, tetapi mereka itu pantang menyerah dalam pencarian ilmu ini. Seperti itu pula halnya, ada tentara-tentara yang menjaga dan mempertahankan Negara di mana mereka itu kehilangan nyawanya, tetapi orang-orang itu tidak berhenti untuk masuk menjadi tentara, atau menghentikan dari menjaga negaranya. Oleh karena itu, dengan menegakkan system pengganti atau khilafat ini sebagian dari orang-orang itu akan medapatkan hukuman karena menciptakan keresahan dan kekacauan, tetapi ada sebagian lainnya dari orang-orang yang akan menjadi kecintaan dari Tuhan dan yang kedudukannya dinaikkan lebih tinggi daripada malaikat. Bagian dari orang-orang yang sukses ini adalah merupkan hasil dari kepengurusan tersebut dan orang tidak dapat mengatakan bahwa penciptaan dari manusia itu tidak sukses. Tetapi yang benar ialah bahwa walaupun hanya seorang individu yang dari bagian golongan yang kedudukannya lebih tinggi itu, ini adalah demi untuk kepentingan keseluruhan system yang harus ditegakkan, dengan tetap memperhatikan kebijaksanaan.
Allah telah berfirman kepada manuia-Nya yang sempurna ini: Bahwa jika bukan karena engkau yang telah dilahirkan ini, maka Aku itu tidak akan menciptakan planet kosmos ini; ini adalah hadits qudtsi dan yang berkenaan dengan Y.M. Rasulullah s.a.w. Beberapa orang individu yang sempurna menerima juga wahyu ini. Orang yang sempurna ini adalah bukti dari ini, bahwa pandangan dan tujuan dari Allah itu ada di bawah kebijaksanaan ini. Orang-orang yang kedudukannya lebih besar daripada malaikat, mereka itu memuji Tuhan dan dapat dipastikan bahwa mereka itu memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari para malaikat, karena kejelian dari malaikat terhadap Tuhan itu terbatas.
Sebagaimana Y.M. Rasulullah s.a.w. itu membersihkan pikiran dari orang-orang dan juga mensucikan praktek dan perbuatan-perbuatannya. Sebegitu jauh sebagai bayangan refleksi dari Tuhan Al-Quddus Yang hakiki ini, kami melihat manfaat dari beliau, sebagaimana yang lama itu tetap ada dan senantiasa menjadi saksi. Khalifatul Masih Tsani r.a. mengatakan tentang sifat Al-Quddus ini, sifat yang kedua-Nya ada bahwa Dia itu Al-Quddus. Tentang ini difirmankan:
Surah Al-Jumu’ah (62) ayat 3:
…………… yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya dan mensucikan mereka, …….
Dia juga menginginkan agar mereka yang berada dekat kepada-Nya dan apa pun yang dikaitkan kepada-Nya haruslah disucikan, oleh karena itu Dia telah mengirim Utusan-Nya dengan amanat dan Tanda-tanda-Nya, sehingga beliau itu harus membacakan ayat-ayat ini kepada mereka dan menciptakan kesucian spiritual di dalam diri mereka. Pertama-tama beliau itu akan membersihkan pikiran mereka dan kemudian yuzakkiihim, mensucikan mereka dalam perilaku dan perbuatannya. Dalam hubungan, Hadhrat Muslih Mau’ud selanjutnya mengatakan bahwa di bawah sifat Al-Quddus ini, pekerjaan dari Utusan Allah disebutkan yuzakkiihim, bahwa beliau itu mensucikan orang-orang. Apakah cirinya dari ulama itu, itulah ia yang mengajari orang-orang lainnya. Orang-orang lain itu, yang dengan usahanya ini akan menjadi orang yang terpelajar. Jadi bukti dari sifat Quddus-Nya Allah itu ialah bahwa orang yang diutus oleh Tuhan itu mensucikan orang-orang; Nabi Muhammad s.a.w. telah membawa setinggi-tingginya orang-orang yang tadinya tidak sebagai manusia yang sempurna, yang dengan usahanya itu menjadi orang-orang yang disucikan. Jadi, inilah Nabi yang sempurna dari Tuhan Yang Al-Quddus, yang dengan pengaruh dari beliau itu maka seorang yang biasa pun dapat menjadi orang suci. Oleh karenanya setiap orang itu haruslah berusaha untuk datang di bawah pengaruh beliau itu, agar mereka itu dapat mensucikan dirinya dan menjadi orang-orang mukmin yang sejati.
Sebagaimana yang telah saya katakan bahwa perintah apa pun dan larangan apa pun yang ada di Kitab Suci Al-Qur’an, saudara-saudara itu harus bekerja dan berbuat dengan mengikutinya; jika kalian tidak mengikutinya, maka kita itu tidak akan disebut sebagai yang datang dari Tuhan, kita itu tidak akan disebut sebagai mereka yang datang kepada Muhammad s.a.w. Sebagai akibatnya, kita itu tidak akan memperoleh manfaat dari sifat Al-Quddus-Nya Tuhan ini.
Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. dengan merujuk pada kekuatan untuk membersihkan diri yang telah Allah berikan kepada Y.M. Rasulullah s.a.w. itu, beliau mengatakan dengan melukiskan gambaran dari Saudi Arabia itu, beliau mengatakan bahwa jika kalian itu melihat pada kondisinya yang rendah dari orang-orang Arab waktu itu, di mana mereka itu melibatkan diri di dalam berbagai macam keburukan dan kejahatan, di mana tidak ada orang yang pernah punya pikiran bahwa orang-orang ini dapat dibersihkan dan disucikan atau bahkan dibuat menjadi orang-orang yang memiliki akal intelligent. Bahwa mereka itu ternyata dapat mengikuti etiket orang normal, dan bahkan menjadi manusia yang ber-Tuhan. Sebagaimana yang telah dijanjikan oleh Tuhan bahwa barang siapa yang menciptakan hubungan dengan kecintaan dari-Ku, maka ia itu akan disucikan. Bukan saja ia itu akan disucikan, tetapi akan mendapatkan pertolongan dari Ruh yang Suci. Kemudian dunia ini pun akan mengalami sebuah perubahan revolusioner dalam keadaan ini.
Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. mengatakan tentang hal ini bahwa barang siapa yang melihat pada itu walaupun hanya dengan pandangan yang sepintas lalu saja pun, maka ia itu akan menginggalkan keinginannya, meninggalkan usahanya serta perbuatannya yang semula, yang di mana mereka itu terlibat dan mereka ini kemudian memutuskan hubungan mereka dengan keburukan serta akan menjumpai Tuhan-nya. Ini semua adalah kekuatan reformasinya dari Y.M. Rasulullah s.a.w., Rasul yang terpilih oleh Tuhan dan yang akan secara kekal abadi menjaga serta memberikan perhatian kepadanya. Dengan jalan ini, dengan memikirkan kualitas baiknya itu telah membawa para sahabat beliau s.a.w. dari kondisinya yang tadinya sangat rendah menjadi naik meningkat setinggi langit. Sedikit demi sedikit mereka itu merubah dan memperbaiki keadaan kesucian diri mereka dan kedudukan mereka terus dan senantiasa meningkat pada setiap saat. Y.M. Rasulullah s.a.w. menemukan mereka seperti binatang dan hewan berkaki empat, di mana mereka tidak mengenal Tauhid dan Ke-Esaan Tuhan dan tidak tahu tentang pensucian diri; mereka itu melibatkan diri di dalam keburukan dan kejahatan, mereka tidak dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk; Y.M. Rasulullah s.a.w. telah mengajari mereka mengenai etiket manusia dan membuat mereka berada di dalam masyarakat yang beradab. Beliau mengatakan pintu ke-3 pada Ilmu Tuhan yang telah Allah buka dengan rahmat dan kemurahan-Nya yang besar di dalam Kitab Suci Al-Qur’an yang adalah berkah dari Tuhan, yang harus disebutkan sebagai pengaruh yang ajaib.
Bahwa orang itu tidak akan menyadarinya bahwa Y.M. Rasulullah s.a.w. itu adalah terbatas seperti halnya sebuah pulau di Arabia, sepertinya mereka itu terisolir dan terpisah dari peradaban lainnya. Sebelum kedatangannya Y.M. Rasulullah s.a.w., mereka itu hidup dalam kehidupan yang tanpa kedamaian. Keimanan dan kepercayaan mereka itu sama sekali tidak menyadari akan tugas mereka kepada Tuhan dan tugasnya kepada sesama manusia; di mana mereka itu adalah orang-orang musyrik yang penyembah berhala dan mempunyai pikiran yang buruk; mereka melibatkan diri di dalam mengejar kesenangan belaka. Mereka itu telah meningkat jauh pada tingkatan yang setinggi-tingginya dalam hal keburukan-keburukan ini; pencurian, perampokan dan pembunuhan serta menguasai dan mengambili harta anak-anak yatim dan membunuhi anak-anak perempuan mereka, dan mengambili hak-hak dari orang lain, yang mereka pikir bahwa yang sedemikian itu bukanlah pekerjaan yang buruk. Segala macam keburukan dan segala bentuk kegelapan secara umum sudah menutupi hati-hati orang yang perompak ini. Hal yang demikian ini sudah amat tersohornya sehingga musuh dan lawannya yang paling keras pun tidak dapat menyangkalnya. Hal ini sudah amat terkenal sehingga mereka yang anti Islam pun tidak dapat mengingkarinya. Setiap orang yang jujur mengetahuinya bahwa orang-orang tadinya jahiliyah yang dungu itu, yang tidak suka damai, yang kotor dan terlibat di dalam keburukan serta mereka yang tadinya kotor sama sekali dan tidak ada nilai kebaikannya sama sekali, setelahnya mereka itu masuk Islam, setelah menerima Kitab Suci Al-Qur’an, betapa perubahan yang radikal itu telah terjadi pada mereka ini, dan betapa pengaruh dari kata-kata Ilahi itu dan kata-kata dari Y.M. Rasulullah s.a.w. itu, yang hanya dalam waktu yang singkat saja telah merubah hati mereka dengan secara radikalnya.
Setelahnya masa kebodohan jahiliyah itu, mereka telah dibuat menjadi kaya dengan kebijaksanaan. Mereka itu begitu sudah kehilangan dan meninggalkan ini dan itu dari rumah mereka, dari bangsa mereka, dari diri mereka sendiri, mereka telah meninggalkan semuanya itu demi untuk menyenangkan Tuhan. Jadi, kondisi dan keadaan mereka semula dan perubahan radical yang telah terjadi dengan kehidupannya yang baru ini, yang telah terjadi dengan menerima dan masuknya mereka itu ke dalam Islam, Kitab Suci Al-Qur’an telah menjelaskannya kepada mereka dengan begitu jelasnya sehingga seorang yang baik dan hatinya suci itu akan mencucurkan air-matanya. Apa yang telah terjadi itu telah merubah mereka sama sekali ke dalam sebuah dunia yang baru. Hanya ada dua hal: Pertama-tama dalam arti bahwa nabi itu yang dengan kekuatan reformasinya itu adalah yang paling efektif. Sedemikian efektifnya sehingga apa yang pernah terjadi di masa yang lampau itu tidak akan pernah terjadi lagi. Yang keduanya adalah bahwa Allah Yang Maha Kuasa dengan efeknya yang besar dari firman-Nya Kitab Suci Al-Qur’an ini, telah membuat banyak-banyak orang keluar dari kegelapan menuju pada nur cahaya kebijaksanaan dan pada spiritual. Ini adalah hal-hal yang menakjubkan, tidak akan ada orang dapat menyebutkan contoh lain dari suatu Kitab Suci lainnya yang telah dapat membawakan perubahan yang sedemikian radikalnya. Tidak akan ada orang yang dapat menunjukkan bukti-bukti bahwa ada sebuah Kitab lainnya dengan kualitas pengaruhnya yang sedemikian, yang dapat membuat reformasi pada orang-orang seperti halnya yang dibawakan oleh Kitab Suci Al-Qur’an dalam mengadakan reformasi di antara orang-orang ini.
Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. mengingatkan kepada kita bahwa pengaruh dari Y.M. Rasulullah s.a.w. itu tidak akan berakhir, tetapi akan terus berlangsung bahkan sampai hari ini pun. Ajaran dari Kitab Suci Al-Qur’an memberikan efek pengaruh dan memberikan berkah-berkah yang sama, bahkan sampai pada hari ini pun juga. Bilamana Tuhan itu adalah sama dengan Tuhan Yang Al-Quddus itu, maka seseorang yang ingin melangkah maju menuju kepada-Nya itu, adalah orang yang ingin mendapatkan manfaat daripada-Nya. Pengaruh dari Rasul-Nya dan pengaruh dari Kitab Suci-Nya itu akan terus berlangsung. Di zaman ini pun, Dia juga telah mengirimkan kepada kita Al-Masih dan Imam Mahdi-Nya; beliau yang merupakan kekuatan untuk mengadakan reformasi, yang memberikan kesempatan kepada kita untuk mendapatkan manfaat dari Tuhan Yang Al-Quddus ini.
Semoga Allah Taala memberikan kemampuan kepada kita untuk dapat meraih hal ini. Aamiiin.
Add comment Mei 13, 2007
Al Quddus (2) Maha Suci; Sifat Ilahi
Setelah mengucapkan Syahadat, memohon perlindungan dan menilawatkan Al-Faatihah, Hudhur aba selanjutnya menilawatkan ayat dari Kitab Suci Al-Qur’an:
Surah An-Nahl (16) ayat 103:
Katakanlah, “Telah menurunkannya Ruhulqudus dari Tuhan engkau dengan kebenaran (hak), supaya Dia mengokohkan orang-orang yang beriman; dan juga sebagai petunjuk dan khabar suka bagi orang-orang muslimin (yang menyerahkan diri).”
Sebagai sifat yang lainnya dari Tuhan, manfaat terbanyak yang kalian dapat terima dari sifat Al-Quddus dan jika ada seseorang yang memperoleh manfaat tertinggi dari sifat tersebut adalah Y.M. Rasulullah s.a.w.
. Beliau adalah seorang manusia yang sempurna dan nabi yang sempurna yang mengambil pada kualitas-kualitas sempurna dari Tuhan. Allah juga telah membuat beliau dapat mengambil warna dari sifat-sifat-Nya yang paling terbanyak. Beliau s.a.w. juga menasihati ummatnya dengan berbagai cara, bahwa untuk menciptakan sebuah hubungan dengan Sang Wujud Suci ini dan untuk mendapatkan manfaatnya yang sebanyak-banyaknya, kalian itu harus mensucikan dirimu sendiri dan menanamkan kualitas-kualitas tersebut. Hanya dengan demikianlah maka kalian itu dapat membuat hubungan dengan Tuhan Yang Maha Suci.
Dalam hubungan ini, saya akan menyampaikan di hadapan saudara-saudara beberapa buah hadits yang juga memberikan pencerahan mengenai beberapa aspek dari kehidupan Y.M. Rasulullah s.a.w. beserta doa-doanya dan peringatan bagi orang-orang mukminin. Demikian juga, saya akan menyampaikan ke hadapan saudara-saudara kutipan dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s.
yang adalah pencinta berat kepada Y.M. Rasulullah s.a.w. dan yang adalah hambanya serta yang merupakan sebuah Tanda dan sebuah ciri dari kekuatan reformasinya of Y.M. Rasulullah s.a.w., caranya beliau yang mengerti akan kedudukan dari Y.M. Rasulullah s.a.w. itu dan menceriterakannya kepada kita. Saya akan memberikan rujukan-rujukannya ke sana.
Ada sebuah doa dari Y.M. Rasulullah s.a.w. yang disampaikan oleh Hadhrat ‘Aisyah r.a. Beliau mengatakan bahwa Y.M. Rasulullah s.a.w. biasa membaca doa ini pada waktu rukuk: subuhun quddusun, rabbul malaikati warruh, Maha Suci Pencipta dari malaikat dan Ruh yang Suci.
Ada pujian lainnya yang dikerjakan oleh malaikat-malaikat dan ada riwayat lainnya, bahwa Hadhrat Sayeed menyampaikan dari kakeknya bahwa Y.M. Rasulullah s.a.w. biasa membaca ayat-ayat Kitab Suci Al-Qur’an ini di dalam sembahyang witirnya: Pertam adalah Surat-ul-A’la, kemudian Surat-ul-Kaafiruun dan Surah Al-Ikhlaas pada rakaat yang ke-3. Setelah mengucapkan salaam, beliau s.a.w. biasa membaca dan mengulangnya 3 kali kata-kata ini dengan suara keras: Subhanal malikil-quddus, Maha Suci Wujud Yang memiliki Kedaulatan dan Yang Suci.
Ada sebuah riwayat lainnya bahwa Y.M. Rasulullah s.a.w. bersabda tidak ada pagi yang terbit di mana orang hidup dan seorang penyeru yang menyuarakan subhanal malikil quddus, Maha Suci Dia Yang Pemilik Kedaulatan dan Al-Quddus.
Ada riwayat lainnya, Ishara r.a. yang adalah seorang imigran, ia menyampaikan bahwa Y.M. Rasulullah s.a.w. bersabda kalian itu harus terus mengucapkan pujian dan taqdis ini, bahwa kalian itu harus melakukan tasbih, tahlil, bahwa kalian itu harus menyatakan bahwa Allah itu Tunggal dan hanyalah Tuhan dan katakanlah Laa ilaha illallah. Taqdis adalah untuk menyatakan Tuhan Maha Suci dan tanpa ada kesalahan dan kekurangan, dan untuk menjalankannya maka kita itu harus mensucikan diri kita demi untuk Engkau. Inilah yang tepat bagi seorang mukmin, jika tidak begitu, maka kita dapat mengatakan bahwa kita itu mempercayai Tuhan Suci dan mengikuti Rasul ini, yang kekuatan sucinya lebih besar daripada nabi-nabi yang lainnya; yang manifestasinya akan terus berlangsung sampai hari Kiamat. Tetapi jika kita tidak melakukan pensucian diri maka ini bukanlah taqdis. Jadi, beliau mengatakan agar kalian itu melakukan tasbih, tahlil dan taqdis serta kalian harus menghitungnya sampai ujung telunjukmu karena pada Hari Pembalasan akan dipertanyakan di mana semua anggota tubuh ini akan berbicara; jika tidak demikian maka kalian akan melupakan rahmat kasih sayang Tuhan.
Doa lainnya yang telah beliau ajarkan, yang disampaikan oleh seorang sahabat bahwa Y.M. Rasulullah s.a.w. mengajari saya sebuah doa yang ditiupkan pada orang yang sedang sakit. Doa itu adalah “Allah Tuhan kami yang ada langit, Ya Allah sungguh Maha Suci Nama-Mu dan Quddus dan Engkau Yang mengatur langit dan bumi ini. Ya Allah sebagaimana Engkau mengadakan pengaturan di langit, semoga Engkau mengirimkan rahmat kasih-sayang-Mu ke bumi. Ya Allah, semoga Engkau mengampuni dosa-dosa kami dan turunkanlah kesembuhan dari kekutan Penyembuhan-Mu.” Kemudian Y.M. Rasulullah s.a.w. mengatakan bahwa kalian itu harus mengulangi ayat ini sebanyak 3 kali dan juga 3 kali Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, and An-Naas.
Ada riwayat lainnya yang disampaikan dalam Sarru-Sunnah bahwa Y.M. Rasulullah s.a.w. memberikan suatu harta kepada seorang sahabat di Medinah, Abdullah bin Mas’ud. Ia mengatakan: Ya Rasul Allah yang suci. Y.M. Rasulullah s.a.w. mengatakan mengapa Allah itu telah membangkitkan aku? Pasti Allah itu tidak akan memberikan pada satu ummat satu keadaan suci sampai mereka itu memberikan hak-haknya kepada pemiliknya yang berhak. Dengan memuji kepada Allah sampai sejauh mana akan bermanfaat yaitu jika setiap orang yang memiliki kewenangan itu akan memberikan hak-haknya kepada orang yang memerlukan dan orang yang di bawahnya dengan secara adil.
Hadhrat Salama r.a. mengatakan bahwa pernah terjadi kekurangan bahan makanan pada suatu pertempuran dan sahabat mendatangi Y.M. Rasulullah s.a.w. meminta izin untuk menyembelih unta-unta tunggangan, di mana Y.M. Rasulullah s.a.w. mengizinkannya. Ketika Hadhrat Umar berpikir apa yang akan ditunggangi nanti selain dari unta ini, ia mendatangi Y.M. Rasulullah s.a.w. dan mengatakan: Ya Rasul Allah apa yang akan mereka tunggangi nanti setelah unta ini disembelih? Y.M. Rasulullah s.a.w. mengatakan buatlah pengumuman kepada orang-orang agar mereka membawa dan mengumpulkan semua di sini makanan apa yang ada dan tersisa pada mereka! Kemudian Y.M. Rasulullah s.a.w. berdoa dan memberikan berkat pada semua makanan ini. Beliau meminta kepada para sahabat untuk membawa semua container tempat makanan mereka dan semua sahabat pun mengisi semua container mereka dengan makanan tersebut. Y.M. Rasulullah s.a.w. bersabda bahwa tidak ada yang patut disembah selain Allah dan saya adalah Rasul-Nya.
Jadi demikianlah kekuatan suci dan efek hasil dari doa beliau yang telah dapat menghilangkan keadaan rasa khawatir mereka dengan memberikan kepada mereka persediaan bahan makanan yang cukup. Kekuatan suci yang telah Allah Taala berikan kepada beliau yang dengan itu beliau telah dapat membersihkan pikiran dari para sahabatnya sehingga apa pun yang beliau umumkan sebagai sebuah wahyu maka para sahabat itu biasa mengikutinya. Segera sesudah mereka mendengarnya maka mereka langsung melaksanakannya sesuai dengan itu. Mereka akan menyelidikinya nanti bagaimana perintah itu, untuk siapakah dan bagaimana bunyi perintah itu. Kesucian dari para sahabat beliau saw. itu demikian tingginya sehingga saudara-saudara tidak akan dapat menemukan bandingannya.
Ada sebuah riwayat bahwa Hadhrat Anas bin Malik r.a. menyampaikan bahwa pada hari ketika minuman alcohol itu dilarang, waktu saya sedang sibuk menyajikan minuman ini di rumah. Mereka itu biasa menggunakan minuman yang khusus ini di zaman tersebut yang dibuat dari buah anggur. Saya mendengar suara seseorang yang meneriakkan seruan dan kemudian Abu Taha mengatakan kepada saya untuk melihat siapa yang berseru itu dan saya mendengar orang yang meneriakkan pengumuman, yang mengatakan bahwa alcohol itu sudah dinyatakan terlarang. Demi Tuhan, alcohol itu ditumpahkan dan mengalir di jalan-jalan, saya juga ikut menumpahkan alcohol ini di jalan; saya katakan bawa keluar bejana ini dan pecahkanlah semuanya. Setelahnya itu para sahabat tidak ada yang pernah meminum alcohol lagi. Mereka pun tidak pernah menanyakan mengapa. Jadi, demikianlah pengaruh dari kekuatan suci Y.M. Rasulullah s.a.w. itu terhadap para sahabat beliau. Tidak ada yang mengatakan tolong cari tahu mengapa demikian, mengapa kami menerima perintah itu sedemikian cepatnya, padahal selama ini kami suka minum minuman ini. Mereka yang menegakkan standard tinggi dalam mensucikan hatinya, dengan cepat memberikan reaksi untuk berbuat melaksanakannya. Mereka itu mengetahui bahwa perintah untuk mensucikan hati kami dan pikiran kami adalah dari Y.M. Rasulullah s.a.w. Walaupun pada kenyataannya mereka itu biasa minum alcohol ini, tetapi mereka pun tahu bahwa alkohol ini merusak. Mereka sudah banyak melihat teman-teman mereka yang menjadi mabuk berat dan melihat mereka melakukan hal-hal yang tidak baik. Saudara pun kadang-kadang melihat orang yang bertengkar dan berkelahi setelahnya mereka itu minum-minum. Tetapi pensucian hati Y.M. Rasulullah s.a.w. dan para sahabatnya adalah untuk mencari keridhaan Allah.
Ada sebuah contoh lainnya ketika Abdullah Ibnu Saluul mengatakan hal yang tidak benar dan yang buruk tentang Y.M. Rasulullah s.a.w. dan Rasulullah s.a.w. tetap diam saja. Tetapi karena orang-orang mengatakan bahwa dia itu adalah pemimpin orang munafik di Medinah, maka anaknya datang kepada Y.M. Rasulullah s.a.w. dan berkata: “Ya Rasul Allah, saya tahu bahwa tuan ingin menghukum ayahku dikarenakan kata-katanya itu; tetapi jika tuan mengumumkan untuk membunuhnya maka saya akan melakukannya. Demi Tuhan, saya tahu tentang suku Ghiziri ini dan tidak akan ada dari mereka, orang yang akan melakukannya. Tuan boleh saja meminta seseorang untuk menghukum dia dan orang-orang itu tidak akan membiarkannya ia seorang diri. Maka kemudian sebagai pembalasannya saya mungkin membunuh seorang mukmin dan bukan seorang yang kafir, sehingga akhirnya masuk neraka. Mendengar kata-kata dari anaknya itu ia mengatakan maka beginilah keadaannya; kami itu tidak akan memperhatikan kesalahannya selama ia akan hidup bersama kami dan kami pun akan berbuat baik kepadanya. Jadi, beginilah hasil efek dari kekuatan beliau yang membawa keadaan reformasi ini yang dikarenakan oleh pertalian dekatnya, pertalian hubungan kebapak-annya. Ia mengatakan janganlah saya sampai dimasukkan di antara orang-orang yang tidak suci, oleh karena itu, untuk menghilangkan kemungkinan yang dapat membawa saya ke neraka, membawa kami menjauh dari Allah dan Rasul-Nya, maka saya sudah siap untuk melakukan tugas ini. Bahwa demi untuk Allah dan Rasul-Nya saya bersedia melaksanakan hukuman terhadap ayahku itu. Tetapi Y.M. Rasulullah s.a.w. yang memiliki kepribadian yang penuh kasih sayang dan untuk berbuat kebaikan, beliau mengatakannya tidak, saya telah memaafkannya dan saya akan terus memaafkan dia. Kalian tidak dapat memperbandingkan aku dengan orang-orang yang berpikiran rendah. Jadi, kekuatan reformasi beliau telah dapat mempengaruhi pikiran dari mereka yang hidup bersama beliau. Satu kali ketika Hadhrat Ali merasa bahwa musuhnya itu meludahi beliau dan Hadhrat Ali telah membiarkannya pergi. Ketika beliau ditanya, beliau menjawab bahwa saya berperang adalah demi untuk Tuhan; sekarang secara pribadi saya terlibat di dalam perasaan dendam maka oleh karena itu saya membiarkan engkau itu pergi. Jadi, demikianlah perubahan shaleh yang telah dibawa oleh Y.M. Rasulullah s.a.w. kepada para sahabat beliau.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s.
bersabda bahwa keadaan bagaimana pun yang ada di Saudi Arabia dan kejahatan apa pun yang mereka itu terlibat serta caranya Y.M. Rasulullah s.a.w. yang telah membuat sebuah perubahan besar, beliau mengatakan bahwa Islam itu dipenuhi dengan Tanda-tanda yang menakjubkan. Nabi kita itu adalah sedemikian harum semerbaknya yang dapat menjangkau dengan segala keberkahan-keberkahannya pada semua jiwa yang baik. Nabi tersebut yang dibuat dari nur cahaya dari Allah, ketika datang waktunya keburukan maka beliau memperlihatkan wajahnya yang cantik dan yang menyebarkan harumnya minyak wangi serta beliau menghancurkan kepalsuan. Dengan kebenarannya itu beliau mewujudkannya dengan amat jelasnya di mana beliau membimbing orang-orang tersebut, mereka yang tadinya tidak ada harapan untuk dapat berjumpa dengan Tuhan mereka. Beliau menciptakan sarana untuk pembimbingan mereka yang tidak pernah ada dalam pikiran mereka sebelumnya bahwa mereka itu dapat berjumpa dengan Tuhan mereka dan menyembah Tuhan mereka. Mereka itu adalah seperti orang-orang yang mati, yang di antara mereka itu tidak memiliki ilmu tentang Tuhan atau tentang keimanan. Mereka menjalani kehidupannya dengan perasaan putus asa dan kemudian beliau telah membimbing mereka dan membuat mereka dengan karakter yang bagus. Bagaimana mereka itu sebelumnya? Mereka itu adalah orang-orang musyrik yang penyembah berhala dan mereka tidak memiliki kepercayaan akan Tauhid, keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan pada Hari Pembalasan. Mereka biasa menghubungkan segalanya pada berhala mereka; bukannya pada sifat-sifat dari Tuhan tetapi mereka mengkaitkannya pada berhala-berhala. Yaitu bahwa bahkan untuk turunnya hujan atau untuk didatangkannya makanan atau untuk menciptakan jabang bayi di dalam rahim atau segala sesuatu yang berhubungan dengan kematian atau kehidupan, mereka itu mengkaitkannya pada berhala-berhala. Setiap orang biasa mempercayai bahwaa penolong mereka terbesar adalah berhala yang biasa mereka sembah itu. Berhala itu menolongnya jika ia berada dalam kesulitan; patung ini akan memberikan pahala jika ia melakukan perbuatan yang baik dan setiap orang biasa memelihara patung berhala tersebut dan menyembahnya.
Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud a.s. selanjutnya bersabda bahwa hal ini sudah tertanam di dalam hati mareka bahwa berhala-berhala mereka itu dapat memberikan kepada mereka semua keinginannya. Mereka punya pikiran bahwa Tuhan itu tidak dapat menolong atau menghukum orang-orang. Kekuatan apa pun tentang jiwa atau dari dunia atau dari tubuh manusia atau dari setiap mahluk ciptaan, Tuhan itu telah memberikan kekuatan tersebut kepada berhala-berhala ini sedangkan Dia-nya sendiri dikesampingkan. Dia yang memberikan kepada mereka kebesaran, mereka mengatakan bahwa Dia telah memberikan kekuatan-kekuatan tersebut pada patung berhala dan memberikan kepada mereka kehormatan dan kedudukan yang besar serta memberikan kepada mereka kekuatan Tuhan. Allah beristirahat di langit arash sana, Dia itu tidak terlibat atau terkait di dalam kegiatannya dari hari ke hari dan hanya patung berhala inilah yang menghilangkan kesulitan mereka dan yang mengabulkan keinginan-keinginan mereka.
Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan bahwa orang-orang ini biasa melakukan kejahatan dan biasa merasa bangga atas perbuatan buruknya itu. Mereka biasa melakukan pelacuran dan pencurian serta menindas anak-anak yatim dan biasa membunuh orang-orang serta merampok mereka dan membunuh anak-anaknya; mereka itu tidak ada perasaan takut atas kejahatan-kejahatannya ini. Tidak ada perbuatan dosa yang tidak mereka lakukan dan tidak ada patung berhala palsu yang tidak mereka sembah. Mereka telah menghancurkan semua etiket dan ahlak moral manusia. Mereka telah membuang jauh-jauh ahlak manusiawi dan mereka itu adalah seperti halnya binatang liar yang hidup di hutan.
Kemudian selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan bahwa mereka itu sudah melampaui batas di dalam kejahatannya dan seperti binatang buas di hutan mereka melakukan apa yang ingin mereka kerjakan. Mereka tidak berbuat apa-apa kecuali minum-minum atau melakukan pekerjaan buruk lainnya; mereka biasa mengambil hak-hak dari anak yatim. Jika ia itu mengeluarkan belanja maka itu adalah untuk keperluan hawa nafsunya dan untuk memenuhi kesenangan dan kegembiraannya. Mereka telah melakukan perbuatan yang jahat ini sampai pada tingkat yang setinggi-tingginya. Mereka tidak dapat menafkahkan bagi orang-orang miskin, kecuali untuk kegembiraan dan kesenangannya sendiri. Inilah keadaan Arab pada saat itu; bahkan sekarang pun mereka yang bersifat keduniawian jika saudara minta kepada mereka untuk membelanjakan di jalan Allah, mereka merasa ragu atau mencari-cari alasan. Tetapi mereka banyak mengeluarkan uang untuk mengejar keduniawian yang sia-sia itu, apa pun yang mereka inginkan.
Jadi, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan bahwa mereka membunuh anak-anak mereka pada saat-saat yang sulit. Mereka biasa membunuh anak-anak perempuan mereka sehingga anaknya itu tidak akan kawin dengan seseorang yang tidak mereka sukai. Kemudian perempuan-perempuan ini biasa memiliki hubungan di luar perkawinan mereka dan orang-orang ini adalah pelacur-pelacur. Mereka hanya punya rasa takut atas diri mereka sendiri dan jika di sana ada seorang yang baik di antara mereka itu, dikarenakan rasa kekhawatirannya tentang rumah-tangganya maka ia itu tidak pernah berbicara satu patah kata pun terhadap mereka. Jadi, orang-orang Arab ini adalah satu bangsa yang sedemikian rupa, yang bahwa mereka itu tidak pernah mendengar suatu nasihat atau peringatan apa pun, mereka tidak pernah tahu apa kebaikan itu, apa amal saleh atau perbuatan baik itu dan apa keshalehan itu. Tidak ada seorang pun yang ucapannya benar dan yang dapat memberikan keputusan yang benar. Mereka sama sekali tidak pernah mengikuti perkataan yang benar dan di mana mereka itu mengambil keputusan maka yang diambilnya adalah yang berlawanan dengan keadilan; tidak ada kualitas apa pun yang baiknya yang dapat ditemukan pada diri mereka. Jadi, dalam keadaan seperti itu, ketika orang-orang sedang dalam penderitaan dan di dalam situasi yang menakutkan ini di mana seluruh kehidupan mereka itu hanyalah keburukan, Allah Taala telah membangkitkan seorang Nabi di Mekkah. Mereka itu tidak tahu apa kenabian itu, mereka ini tidak mengetahuinya. Jadi, mereka itu telah menolak beliau dan telah mengingkari Nabi ini karena mereka tidak memiliki ilmu di mana mereka bersikeras di dalam penolakan dan pengingkarannya dan dalam ketidak- shalehannya itu. Y.M. Rasulullah s.a.w. telah men-tolerir pada semua tindakan yang kelewat batas yang telah mereka lakukan terhadap beliau itu. Beliau s.a.w. telah memperlihatkan kasih-sayang beliau pada segala tekanan yang beliau terima dan beliau telah menghilangkan rasa kebencian dan menggantinya dengan kecintaan. Untuk beberapa saat Y.M. Rasulullah s.a.w. hanyalah seorang diri saja dan beliau biasa berjalan berkeliling seperti orang yang tertolak dan ia berdiri menghadapi keadaan yang menakutkan ini. Jadi, demikianlah keadaan dari orang-orang Arab itu, di mana beliau s.a.w. itu dibangkitkan di sana. Tetapi, Tuhan Yang dengan Ruh Suci-Nya yang telah mengangkat beliau itu, telah membuat satu perubahan yang radical pada seluruh dunia yang dibawakan melalui beliau s.a.w.
Tentang ini Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan tentang Y.M. Rasulullah s.a.w. bahwa satu saatnya tiba yaitu kekasaran dan kekerasan itu dikeluarkan dan diserahkan, yaitu kepada Y.M. Rasulullah s.a.w. Setiap orang yang baik keluar dari keadaan yang menakutkannya dan mereka mengadakan usaha dengan harta mereka dan dengan jiwa mereka di jalan Allah serta menggunakan segala sumber daya mereka yang ada demi untuk Islam, mereka mengorbankan apa yang mereka miliki. Mereka itu disembelih seperti hewan sembelihan, hewan yang disembelih dijadikan korban. Mereka memberikan kesaksian dan juga bukti dengan perbuatan mereka bahwa mereka itu benar-benar tulus dalam berjuang di jalan Allah. Jadi, setelahnya mereka itu menerima dan masuk Islam mereka itu diterangi dengan nur cahaya dan mengganti keburukan mereka dengan keshalehan. Kebiasaan mereka minum alkohol diganti dengan sujud shalat mereka di malam yang gelap gulita; jadi bukannya minum-minum sampai larut malam, tetapi mereka menggantinya dengan beribadah kepada Tuhan, dan yang telah membuat perubahan itu adalah dengan kekuatan Suci-nya dari Y.M. Rasulullah s.a.w. Minum minuman alcohol di pagi hari, yang pertama kali ia lakukan ketika baru bangun adalah untuk minum alcohol, seperti halnya yang dilakukan oleh para pemabuk itu, beliau telah rubah dengan dengan shalat Subuh di pagi hari dan dengan memberikan pujian kepada Tuhan, mereka ini dengan penuh kepastian siapa sedia untuk menyerahkan harta dan jiwanya di jalan Tuhan.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan secara singkatnya bahwa ajaran dari Kitab Suci Al-Qur’an dan nasihat atau peringatan dari Y.M. Rasulullah s.a.w. itu dibagi menjadi 3 tingkatan:
yang pertama adalah merubah manusia hewani menjadi wujud yang memiliki etiket kemanusiawian, dan
yang keduanya untuk merubah mereka pada ahlak moral yang baik dan sempurna, dan
yang ketiganya ialah mengangkat mereka dari manusia yang bermoral dan membawa mereka pada kecintaan kepada Tuhan dan yang memperoleh kedudukan yang muncul dari Keberadaan Wujud Tuhan.
Mereka mengadakan usaha untuk dapat meraih kesenangan, ridha dari Tuhan dan kedekatannya kepada Tuhan dan juga dalam mencari ridha Ilahi itu mereka sudah siap untuk menghancurkan kesenangan dan ego keakuan mereka sendiri. Jadi, demikianlah demikian keadaannya di mana tidak ada tanda-tanda dari adanya mementingkan diri sendiri. Hanyalah Tuhan yang tetap demikian setelahnya Tuhan itu tetap demikian sebagai yang tunduk setelahnya kehidupan ini dan pada kehidupan yang akan datang. Kemudian beliau mengatakan bahwa tentang kedudukan Y.M. Rasulullah s.a.w. ini dan kekuatan dari reformasinya serta kesucian dari jiwanya dan ketertarikannya kepada Tuhan itu, saudara-saudara menemukannya bahwa beliau itu adalah dengan kekuatan yang sedemikian besarnya yang beliau telah bawakan sehingga mendapatkan orang-orang yang sedemikian besar dedikasinya itu. Hanyalah orang-orang yang bodoh yang mengatakan bahwa orang-orang itu dapat datang dan tertarik dengan tanpa sesuatu alasan. Selama kalian itu tidak memiliki daya tarik kutub magnit maka orang-orang itu tidak akan berkumpul di sekeliling kalian. Kepercayaanku adalah bahwa kekuatan reformasi beliau itu adalah sedemikian besarnya, bahwa tidak ada nabi lainnya yang telah diberikan kekuatan sampai pada tingkatan ini. Rahasia dari kemajuan Islam itu adalah terletak pada kekuatan daya tariknya Y.M. Rasulullah s.a.w. yang sedemikian besarnya di mana kata-kata beliau itu adalah sedemikian efektifnya sehingga siapa pun yang mendengarnya akan tertarik untuk mendekat kepada beliau. Siapa yang sudah tertarik mendekat pada beliau, lalu beliau mensucikannya dan ajaran beliau itu sedemikian mudah dan jelasnya di mana di di dalam ajaran ini tidak ada dogma yang kalian tidak dapat mengertikannya.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan tentang Napoleon, yang dikatakan bahwa ia itu adalah seorang Muslim dan ia biasa mengatakan bahwa Islam itu sederhana dan agama yang lurus dan terus terang. Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan bahwa ada jutaan orang-orang yang baik, bersih dan yang suci yang telah berlalu dan juga ada pada hari kemudian nanti, tetapi kami menemukan yang terbaik dan paling indah dan cantik yaitu pada manusia Tuhan ini yang namanya adalah Muhammad s.a.w.:
Surah Al-Ahzaab (33) ayat 57:
Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang mukmin, ucapkanlah shalawat untuknya dan mintalah selalu doa keselamatan baginya.
Bahwa, lupakanlah orang-orang yang tidak disebutkan di dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Kita hanya berbicara mengenai nabi-nabi yang ada disebutkan di dalam Kitab Suci Al-Qur’an seperti Nabi Musa a.s, Daud dan nabi-nabi yang lainnya. Kami mengatakan dengan sumpah bahwa jika Y.M. Rasulullah s.a.w. tidak muncul di dunia dan Kitab Suci Al-Qur’an tidak diturunkan maka berkah-berkah itu tidak akan dapat kami melihatnya dengan mata kami sendiri, bahwa kami itu sudadh dapat melihatnya, kemudian kebenaran dari Nabi-nabi yang lainnya itu akan tetap tidak pasti dan meragukan. Karena dengan sejarah itu saudara-saudara tidak akan dapat menemukan kebenaran dan mungkin saja bahwa sejarah itu adalah tidak benar dan barangkali saja semua keajaiban yang dikaitkan kepada nabi-nabi tersebut semuanya dibesar-besarkan, karena yang demikian itu tidak ada pada hari ini. Tetapi di dalam Kitab lama saudara-saudara itu bahkan tidak menemukan apa realitasnya dari Tuhan itu dan kami pun tidak dapat memastikannya bahwa Tuhan itu dapat mengadakan komunikasi dengan orang-orang. Tetapi dengan diturunkannya Y.M. Rasulullah s.a.w. semua dongengan itu sudah dirubah menjadi kenyataan dan sekarang kami sudah melihat di dalam prakteknya bahwa segalanya itu menjadi pasti dan kami telah membuatnya di dalam prakteknya apa dan bagaimana hubungan dengan Tuhan itu. Apakah dialog dengan Tuhan itu, bagaimanakah kebenaran dalam Tuhan yang mendengar atas doa-doa dan bagaimana doa-doa ini dikabulkan oleh-Nya. Kami telah menemukan semuanya itu dengan mengikuti Y.M. Rasulullah s.a.w. Ceritera apa pun yang disebutkan oleh orang-orang lain, kami telah melihatnya dengan mata kepala sendiri. Kami telah mengikuti seorang Nabi yang sedemikian rupa yang merupakan manifestasi dari Tuhan. Beliau membacakan sebuah syair bahwa: “Kami tidak dapat mengatakan Dia itu adalah Tuhan tetapi kami katakan bahwa kami itu hanya dapat mengenal Tuhan dengan mengenali kedudukannya dari Y.M. Rasulullah s.a.w. Bagaimana kami itu dapat meng-ekspresikan rasa syukur kami bahwa Dia Yang telah memberikan kepada kami seorang pemimpin yang sedemikian besarnya, yang kebenarannya di manifestasikan seperti terangnya sinar matahari”.
Sebagaimana untuk memberi makanan untuk tubuh, Allah itu telah menyediakan matahari; beliau itu adalah mataharinya dari jiwa yang ada di dunia dan beliau memanifestasikan dirinya dikegelapan malam hari sehingga beliau telah menghilangkan segala kegelapan itu. Beliau tidak meninggalkan deal untuk tidak mensucikan orang-orang yang ada di sekitar beliau, beliau sendiri adalah satu kebenaran karena nur cahaya penerangan itu dimanifestasikannya. Pengikutnya yang sejati mensucikan orang-orang seperti halnya air sungai yang bersih dapat mencuci dan membersihkan pakaian yang kotor. Orang-orang yang belum menerima beliau dan yang pintunya telah diketuk tetapi tidak dibuka olehnya, alangkah malangnya orang-orang ini, karena banyak di antara mereka yang menginginkan kehidupan duniawi saja. Mereka tidak ingin cahaya untuk masuk. Jadi, di zaman ini Y.M. Rasulullah s.a.w. telah memanifestasikan kedudukan dari nabi-nabi yang telah lalu. Kami juga mengetahui bahwa kehidupan abadinya yang telah dikaruniakan dan hukum syariat yang berlangsung secara abadi untuk kebaikan adalah yang dari Y.M. Rasulullah s.a.w., yang kekuatan reformasi beliau masih terus berlangsung, bahkan sampai saat ini pun. Pencinta sejati beliau s.a.w., yaitu Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud a.s. telah memperlihatkan kekuatan reformasinya, yang dengan mengikuti beliau itu, kami akan menemukan kedekatan kepada Yang Tunggal, Tuhan Yang Maha Esa.
Jadi, tentang kedudukan Y.M. Rasulullah s.a.w. dan kedudukan dari Kitab Suci Al-Qur’an ini, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan bahwa kata khatamunnabiyyiin, meterai dari nabi yang telah disebutkan tentang Y.M. Rasulullah s.a.w. ini menginginkannya sendiri bahwa Kitab yang diturunkan kepada Y.M. Rasulullah s.a.w. itu adalah juga meterai dari nabi dan segala kesempurnaan itu ada didapatkan di dalamnya. Bahwa segala macam kesempurnaan dan kesempurnaan dari ilmu itu didapatkan di dalam Kitab Suci Al-Qur’an ini. Jadi inilah Tanda dari menjadinya sebagai meterai dari semua Kitab-kitab di mana yang pada kenyataannya segala kesempurnaan itu ada didapatkan di dalamnya. Karena prinsip dari diturunkannya wahyu itu adalah bahwa sejauh orang itu memiliki kesucian dan ruh, maka sejauh itulah perhubungannya dengan Tuhan itu. Kekuatan dari Y.M. Rasulullah s.a.w. untuk mensucikan adalah kemungkinan tertinggi yang tentang ini seseorang itu tidak akan dapat memperolehnya atau sama sekali tidak akan diperolehnya.
Oleh karena itu, Kitab Suci Al-Qur’an ini adalah lebih bagus dari semua Kitab-kitab yang telah diwahyukan sebelumnya; pada kedudukan tersebut tidak ada Kitab yang diwahyukan sebelumnya yang dapat meraihnya. Dikarenakan kemampuan dan kekuatan dari reformasi dan pensucian hati dari Y.M. Rasulullah s.a.w. itu adalah lebih dari apa pun juga. Segala kesempurnaan itu telah beliau peroleh. Beliau sampai pada tingkatannya yang tertinggi, oleh karena itu Kitab yang diwahyukan kepada beliau itu memiliki tingkat kesempurnaan yang paling tertinggi. Adapun dalam kesempurnaan dari kenabian, ini telah dilengkapi pada diri beliau s.a.w. Seperti itu pula keajaiban dari Kitab Suci Al-Qur’an itu telah disempurnakan dan sekarang sudah berakhir di dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Sekarang ini tidak ada Kitab lainnya yang dapat diturunkan untuk memperlihatkan ilmu yang sedemikian banyak dan sempurnanya sebagaimana yang telah dituliskan di dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Itulah sebabnya mengapa beliau itu dikatakan sebagai khatamun nabiyyiin dan Kitab beliau itu adalah khatam-ul-kutub. Kedudukan yang bagaimana pun dan ketinggian spiritual yang dapat orang miliki serta kesempurnaan perhubungannya tidak ada yang seperti yang dapat dicapai oleh Kitab ini. Kemudian tentang kedudukan dari kekuatan reformasinya Y.M. Rasulullah s.a.w. ini, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan yang para Kiai Mullah itu telah menolaknya, yaitu di mana Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan bahwa dalam:
Surah Al-Faatihah ayat-ayat:
-
- Tunjukkanlah kami pada jalan yang lurus;
- Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, ………
Perlihatkanlah kepada kami jalan yang benar, jalan yang lurus. Penolakan dari para kiai dewasa ini, apakah kalian mengira bahwa sekarang itu segalanya sudah berakhir dan tidak ada usaha dari orang-orang yang dapat membuahkan hasil yang baik dan yang tidak dapat diberikan berkah-berkah yang pernah didapatkan oleh orang-orang yang suci sebelum ini? Orang-orang ini, yang walaupun mereka itu punya pikiran bahwa faedah dari Kitab Suci Al-Qur’an itu telah berakhir dan mereka itu tidak mempercayai akan kekuatan reformasinya dari Y.M. Rasulullah s.a.w. itu adalah abadi, mereka itu mengatakan bahwa sekarang ini tidak ada orang yang dapat diberkati oleh Tuhan sebagaimana yang orang-orang suci dahulu itu telah diberkahi-Nya. Jika demikian maka apa gunanya mereka berdoa seperti ini. Tetapi mereka itu semuanya salah, mereka sama sekali berdusta jika mereka punya pikiran bahwa semuanya ini sudah berakhir. Semua berkah-berkah dari Tuhan akan masih terbuka dan masih berjalan. Mereka itu semuanya ada mengikuti Y.M. Rasulullah s.a.w., tetapi jika ada seseorang yang menyatakan bahwa dengan tanpa mengikuti Y.M. Rasulullah s.a.w. ia itu akan mendapatkan berkah-berkah spiritual, maka ia itu dusta dan ia itu tidaklah benar, karena kepada Y.M. Rasulullah s.a.w. telah dianugerahkan:
Surah Al-Kautsar ayat 2:
Sesungguhnya, Kami telah menganugerahkan kepada engkau berlimpah-limpah kebaikan,
Itulah saatnya ketika orang-orang kafir itu mengatakan bahwa beliau itu tidak punya anak laki-laki. Dalam hal ini Y.M. Rasulullah s.a.w. telah diberitahu oleh Tuhan bahwa:
Surah Al-Kautsar ayat 4: Sesungguhnya, musuh engkau, dia itulah yang tanpa keturunan, yang abtar.
Musuhmu itu akan tetap tidak memiliki keturunan karena semua anak laki-laki spiritual yang akan dilahirkan itu akan menjadi anak-anakmu dan mereka ini akan memperoleh berkah-berkah daripada-Nya: 
Surah Al-Ahzaab (33) ayat 41: ………… akan tetapi, ia adalah Rasul Allah dan meterai sekalian nabi-nabi, …….
bahwa jika kalian itu memperkaitkan semuanya maka kalian itu akan dapat mengetahui apa arti yang sebenarnya. Jika tidak adanya keturunan dari Y.M. Rasulullah s.a.w. di mana ia disebutkan sebagai abthar, tanpa memiliki anak laki-laki, maka ini adalah untuk musuh-musuh beliau s.a.w. inna a’tayinakal kaushar (108:4) memperlihatkan bahwa Allah Taala akan memberikan kepada beliau anak-laki-laki spiritual yang besar, jika kalian tidak percaya pada hal ini bahwa beliau itu akan mempunyai sejumlah banyak keturunan spiritualnya maka kami itu adalah mengingkari janji dari Tuhan ini. Jadi, pada setiap keadaan itu, seorang mukmin sejati, seorang Muslim harus percaya bahwa kekuatan spiritual dari Y.M. Rasulullah s.a.w. itu sampai di hari kiamat pun akan persis sama seperti halnya pada 13 ratus tahun yang lalu.
Allah telah mendirikan organisasi Jama’at Ahmadiyyah yang dengan alasan itulah kami ada melihat berkah-berkah dan Tanda-tanda yang sama serta kejaiban yang terjadi pada saat dahulu. Jika saja para penentang ini mengerti akan maksud dari Kitab Suci Al-Qur’an ini dan pendakwaan dari pencinta berat kepada Y.M. Rasulullah s.a.w. ini, di mana mereka itu akan dapat membuktikan kebenarannya jika mereka masuk pada Jama’atnya Al-Masih ini dengan ruh semangat yang suci.
Khususnya di Negara-negara Islam dan Negara-negara lainnya di mana banyak orang-orang yang mengaku Muslim yang menentangnya, bahkan mereka itulah yang menyesatkan orang-orang awam dan yang menghasut perasaan orang-orang ini dengan perasaan kebencian. Orang dimaksud ini yang telah datang untuk menegakkan kedamaian, orang yang mendapat pertolongan dari Ruh Suci ini telah membuat binatang menjadi manusia. Sekarang, walaupun mereka itu mengkaitkannya ke sana, tetapi mereka yang para mullah telah membuat manusia menjadi binatang. Apa yang seharusnya mereka kerjakan adalah bahwa mereka itu harus mau percaya kepada Al-Masih dan Imam Mahdi, mereka itu harus mencari manfaat dari kekuatan reformasinya dari Nabi Besar Muhammad, Rasulullah s.a.w. tersebut.
Hadhrat Imam Mahdi Masih Mau’ud a.s. mengatakan betapa malangnya ada orang-orang di antara Muslimin yang percaya bahwa keajaiban dan Tanda-tanda itu sudah berakhir pada zaman yang lalu; katanya Allah itu tidak mungkin untuk memperlihatkan keajaiabn-Nya lagi, inilah kemalangan mereka itu dan kerugian mereka itu. Karena mereka sendiri membuat mahrum dan tidak berhak untuk memperoleh berkah-berkah yang hakiki, yaitu Islam hakiki yang bisa didapatkan oleh pengikut sejatinya Y.M. Rasulullah s.a.w. Mereka ini berpikir bahwa hal itu biasa terjadi di masa yang lampau, tetapi sekarang ini tidak lagi. Dengan kekonyolan pikirannya yang sedemikian itu, dipercayai bahwa mereka ini sedang menyerang kedudukan yang tinggi dari Y.M. Rasulullah s.a.w. dan menyerang kehormatannya. Mereka ini menghinakan pada Islam. Jika racun semacam ini sudah tersebar di antara orang-orang Muslimin, maka mereka itulah yang menghinakan kepada Y.M. Rasulullah s.a.w., Tuhan telah membangkitkan-ku sebagai Masih Mau’ud, Al-Masih yang dijanjikan, agar aku dapat memperlihatkan kejaiban-keajaiban dan keajaiban Islam itu selalu segar pada setiap saat. Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan bahwa ada jutaan orang yang telah menyaksikan bahwa mereka telah mendapatkan berkah-berkah ini dan telah menyaksikan berkah-berkah ini. Inilah bukti yang telah dimanifestasikan tentang kebenaran dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. itu, tidak ada pengikut dari nabi yang lainnya yang dapat memperlihatkan keajaiban ini dan nur cahaya ini seperti yang dapat saya perlihatkan. Itu hanyalah sebuah pemandangan dari keadaan hakiki yang dapat menyembuhkan hampir semua penderitaan dari orang-orang yang sakit. Jadi Nabi ini akan memberikan pengaruh yang kekal abadi. Jadi manfaat dari kekuatan reformasinya dari Y.M. Rasulullah s.a.w. itu akan terus berlangsung. Saat ini kami melihat pemandangan dari Ruh Suci yang mendukung kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s.
Sebagaimana yang telah saya katakan, kekuatan reformasi dari Y.M. Rasulullah s.a.w. dan manifestasinya dari Tuhan Maha Suci yang hidup, Yang telah menjanjikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s.: Anallahu …. dalam Bhs Arab bahwa Aku Allah memberikan kepadamu nikmat kebaikan yang besar dan Aku sudah bersedia untuk mendukung Utusan-Ku. Jadi, perlakuan Allah ini akan terus berlanjut bahkan sampai hari ini pun, dengan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan Jama’at-nya. Kami melihat berkah-berkah dari Ruh Suci ini bahkan pada hari ini pun, ini adalah perlakuan dari berkah-berkah yang mengkaitkan orang-orang di akhir zaman ini dengan orang-orang yang terdahulu. Mereka orang-orang yang memanfaatkannya, dengan melakukan amal baik itu adalah sama dengan mengkhidmati keturunannya. Yang mendapatkan manfaat dari kekuatan Suci itu, bahkan sampai hari ini pun dengan manfaat kebaikan dari Allah yang terus sedang berlangsung; Allah itu memberikan manfaat kepada Jama’atnya Al-Masih ini. Kami lihat sebagai satu Jama’at dan juga sebagai pada individunya manifestasi dari pertolongan ini dan bahkan saya dapat mengatakan bahwa para penentang itu pun ikut menyaksikannya; 4 tahun yang lalu betapa Allah Taala itu mensucikan hati orang-orang mukminin dan yang Y.M. Rasulullah s.a.w. untuk membuktikan kebenarannya, yang memperoleh manfaatnya lebih dari siapa pun juga dengan Ruhul Kudus yang menggenapi setiap kata-kata dari hamba sejatinya dengan manfaat dari Khilafat.
Allah telah memenuhi hati orang-orang dengan doa-doa bahwa Khilafat itu harus terus berlanjut di antara kita, di mana setiap orang mukmin mendapatkan sebuah keaiban dan yang menakjubkan di dalam hatinya. Apakah itu? Itulah kekuatan reformasi dari Y.M. Rasulullah s.a.w. dari Islam yang diwujudkan pada waktu ini dengan mensucikan setiap dan semua hati. Ada banyak orang yang dikaruniai dengan kasyaf dan mimpi-mimpi yang benar, yang orang-orang beriman telah menyaksikannya. Kemudian dunia juga menyaksikan bahwa Allah itu telah mengisi hati dari orang-orang dengan kecinaan kepada Khilafat dan juga mengisi hati Khalifah dengan kecintaannya kepada para pengikutnya. Jadi, Allah telah menjadikan Khalifah yang tadinya seorang biasa dan setelahnya menjadi Khalifah diisi-Nya dengan kecintaan yang besar. Mereka ini memiliki kasih sayang dan kecintaan dengan Khalifah yang orang itu tidak dapat membayangkannya. Jama’at dan Khalifah adalah merupakan satu tubuh dan akan senantiasa tetap menjadi satu tubuh. Inilah manfaat dari nabi yang hidup itu, yang terus dan senantiasa memperkuat dan meningkatkan keimanan kami pada setiap detik. Insya-Allah Jama’at akan terus melihat pemandangan ini; tetapi untuk mendapatkan manfaatnya dari situ, kita ini harus senantiasa mensucikan hati kita sesuai metoda yang Dia telah ajarkan kepada kita sehingga kami akan terus memperoleh manfaat dari sifat Al-Quddus Tuhan.
Semoga Allah memberikan kemampuan kepada kita untuk dapat melaksanakannya. Aamiin!
Selanjutnya Hudhur aba minta doa bagi Mian Waseem Ahmad Sahib, Nazir e Ala Qadian, yang setelahnya mendapat serangan jantung beliau menderita sakit yang berat dalam beberapa hari ini. Semoga Allah Taala menganugerahkan berkah kepada beliau dengan kesembuhan dan kesehatan yang baik; beliau itu adalah seorang pribadi yang amat sangat mementingkan orang lain.
2 comments Mei 13, 2007
Ayat Khataman Nabiyyiin (Bag. I)
http://jamalsa.com/blog/index.php/2007/04/17/makna-ayat-khaataman-nabiyyiin-bagian-1/
–
Makna Ayat Khaataman Nabiyyiin (Bagian 1)
Published April 17, 2007 in Islam.
Salah satu tuduhan yang kerap dilontarkan oleh orang-orang yang belum
mengenal Ahmadiyah adalah bahwa orang-orang Ahmadi tidak percaya kepada
Khaataman Nubuwwat dan tidak mempercayai Rasulullah s.a.w. sebagai
Khaataman Nabiyyiin. Tuduhan ini merupakan salah satu bentuk dusta.
Apabila orang-orang Ahmadi menyebut dirinya orang Islam dan memegang teguh
dua Kalimah Syahadat, maka atas dasar apakah ia harus ingkar kepada
Khaataman Nubuwwat dan mengingkari Rasulullah s.a.w. sebagai Khaataman
Nabiyyiiin? Allah Ta’ala dengan jelas berfirman dalam Al Quran Karim :
مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَكِن رَّسُولَ
اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
“Muhammad bukanlah bapak salah seorang diantara laki-lakimu, akan tetapi
ia adalah Rasul Allah dan Khaataman Nabiyyiin, dan Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu.” (QS. Al Ahzab : 41)
Orang-orang Ahmadi yang mempercayai Al Quran tidak mungkin mengingkari
ayat ini. Tegasnya, orang-orang Ahmadi tidaklah beritikad bahwa Rasulullah
s.a.w. -Nau’udzubillah- bukanlah Khaataman Nabiyyiin. Apa yang dikatakan
orang-orang Ahmadi ialah makna Khaataman Nabiyyiin yang dipercayai oleh
kaum Muslimin pada umumnya tidak sesuai dengan yang dimaksudkan oleh ayat
tersebut dan tidak menampakkan keagungan dan kemuliaan yang diisyaratkan
oleh ayat tersebut. Jemaat Ahmadiyah mengartikan Khaataman Nabiyyiin
sesuai penggunaan umum bahasa Arab dan didukung oleh ucapan Siti Aisyah
r.a., Sayyidina Ali r.a., para Sahabat lainnya, dan bersesuaian pula
dengan pendapat ulama-ulama salaf.
Berikut adalah penafsiran mengenai ayat Khaataman Nabiyyiin yang ditulis
oleh Hazrat Khalifatul Masih II, Hazrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad
r.a. dalam Tafsir Saghir :
“Khatam berasal dari kata khatama yang berarti: ia memeterai, mencap,
mensahkan atau mencetakkan pada barang itu. Inilah arti-pokok kata itu.
Adapun arti kedua ialah: ia mencapai ujung benda itu; atau menutupi benda
itu, atau melindungi apa yang tertera dalam tulisan dengan memberi tanda
atau mencapkan secercah tanah liat di atasnya, atau dengan sebuah meterai
jenis apa pun. Khatam berarti juga sebentuk cincin stempel; sebuah segel,
atau meterai dan sebuah tanda; ujung atau bagian terakhir dan hasil atau
anak (cabang) suatu benda. Kata itu pun berarti hiasan atau perhiasan;
terbaik atau paling sempurna. Kata-kata khatim, khatm dan khatam hampir
sama artinya (lihat Arabic-English Lexicon oleh E.W. Lane, Al-Mufradat fi
Ghara’ib-ul-Quran oleh Shaikh Abu’l Qasim Husain ibn Muhammad ar-Raghib,
Fat-hul-Bayan oleh Abu’th Thayyib Siddiq ibn Hasan, dan Syarh Zurqani oleh
Imam Muhammad ibn ‘Abdul Baqi al-Zurqani). Maka kata khataman nabiyyin
akan berarti meterai para nabi; yang terbaik dan paling sempurna dari
antara nabi-nabi; hiasan dan perhiasan nabi-nabi. Arti kedua ialah nabi
terakhir.
Di Mekkah pada waktu semua putra Rasulullah s.a.w. telah meninggal dunia
semasa masih kanak-kanak, musuh-musuh beliau mengejek beliau seorang abtar
(yang tidak mempunyai anak laki-laki), yang berarti karena ketidakadaan
ahliwaris lelaki itu untuk menggantikan beliau, jemaat beliau cepat atau
lambat akan menemui kesudahan (lihat Al-Bahrul-Muhith oleh Atsir al-Din
Abu ‘Abdullah Muhammad ibn Yusuf dari Granada (Spanyol) alias Abu Hayyan).
Sebagai jawaban terhadap ejekan orang-orang kafir, secara tegas dinyatakan
dalam Surah Al-Kautsar, bahwa bukan Rasulullah s.a.w. melainkan
musuh-musuh beliaulah yang tidak akan berketurunan. Sesudah Surah
Al-Kautsar diturunkan, tentu saja terdapat anggapan di kalangan kaum
Muslimin di zaman permulaan bahwa Rasulullah s.a.w. akan dianugerahi
anak-anak lelaki yang akan hidup sampai dewasa. Ayat yang sedang dibahas
ini menghilangkan salah paham itu, sebab ayat ini menyatakan bahwa
Rasulullah s.a.w., baik sekarang maupun dahulu ataupun di masa yang akan
datang bukan atau tidak pernah akan menjadi bapak seorang orang lelaki
dewasa (rijal berarti pemuda).
Dalam pada itu ayat ini nampaknya bertentangan dengan Surah Al-Kautsar,
yang di dalamnya bukan Rasulullah, melainkan musuh-musuh beliau yang
diancam dengan tidak akan berketurunan, tetapi sebenarnya berusaha
menghilangkan keragu-raguan dan prasangka-prasangka terhadap timbulnya
arti yang kelihatannya bertentangan itu. Ayat ini mengatakan bahwa Baginda
Nabi Besar Muhammad s.a.w. adalah rasul Allah, yang mengandung arti bahwa
beliau adalah bapak ruhani seluruh umat manusia dan beliau juga Khataman
Nabiyyin, yang maksudnya bahwa beliau adalah bapak ruhani seluruh nabi.
Maka bila beliau bapak ruhani semua orang mukmin dan semua nabi, betapa
beliau dapat disebut abtar atau tak berketurunan. Bila ungkapan ini
diambil dalam arti bahwa beliau itu nabi yang terakhir, dan bahwa tiada
nabi akan datang sesudah beliau, maka ayat ini akan nampak sumbang
bunyinya dan tidak mempunyai pertautan dengan konteks ayat, dan daripada
menyanggah ejekan orang-orang kafir bahwa Rasulullah s.a.w. tidak
berketurunan, malahan mendukung dan menguatkannya. Pendek kata, menurut
arti yang tersimpul dalam kata khatam seperti dikatakan di atas, maka
ungkapan Khataman Nabiyyin dapat mempunyai kemungkinan empat macam arti:
(1) Rasulullah s.a.w. adalah meterai para nabi, yakni, tiada nabi dapat
dianggap benar, kalau kenabiannya tidak bermeteraikan Rasulullah. Kenabian
semua nabi yang sudah lampau harus dikuatkan dan disahkan oleh Rasulullah
s.a.w. dan juga tiada seorang pun yang dapat mencapai tingkat kenabian
sesudah beliau, kecuali dengan menjadi pengikut beliau. (2) Rasulullah
s.a.w. adalah yang terbaik, termulia, dan paling sempurna dari antara
semua nabi dan juga beliau adalah sumber hiasan bagi mereka (lihat Syarh
Zurqani oleh Imam Muhammad ibn ‘Abdul Baqi al-Zurqani, dan Syarah Mawahib
al-Laduniyyah oleh Syihab-ud-Din Ahmad Qastalani). (3) Rasulullah s.a.w.
adalah yang terakhir di antara para nabi pembawa syari’at. Penafsiran ini
telah diterima oleh para ulama terkemuka, orang-orang suci dan waliullah
seperti Ibn ‘Arabi, Syah Waliullah, Imam ‘Ali Qari, Mujaddid Alf Tsani,
dan lain-lain. Menurut ulama-ulama besar dan para waliullah itu, tiada
nabi dapat datang sesudah Rasulullah s.a.w. yang dapat memansukhkan
(membatalkan) millah beliau atau yang akan datang dari luar umat beliau
(lihat Futuhat Makkiyyah oleh Muhyiddin ibn al-’Arabi, Tafhimat Ilayhiyyah
oleh Syah Waliyullah Dehlawi, Maktubat oleh Mujaddid Alf Tsani, dan
Yawaqit wa’l Jawahir oleh lmam Abdul Wahab Syairani). Siti Aisyah r.a.
istri Rasulullah s.a.w. yang amat berbakat, menurut riwayat pernah
mengatakan, “Katakanlah bahwa beliau (Rasulullah s.a.w.) adalah Khataman
Nabiyyin, tetapi janganlah mengatakan tidak akan ada nabi lagi sesudah
beliau” (lihat Durr Mantsur oleh Hafizh Jalal-ud-Din ‘Abdur Rahman
Sayuthi). (4) Rasulullah s.a.w. adalah nabi yang terakhir (Akhirul Anbiya)
hanya dalam arti kata bahwa semua nilai dan sifat kenabian terjelma dengan
sesempurna-sempurnanya dan selengkap-lengkapnya dalam diri beliau: khatam
dalam arti sebutan terakhir untuk menggambarkan kebagusan dan
kesempurnaan, adalah sudah lazim dipakai. Lebih-lebih Alquran dengan jelas
mengatakan tentang bakal diutusnya nabi-nabi sesudah Rasulullah s.a.w.
wafat (Q.S. 7:36). Rasulullah s.a.w. sendiri jelas mempunyai tanggapan
tentang berlanjutnya kenabian sesudah beliau.Menurut riwayat, beliau
pernah bersabda, “Sekiranya Ibrahim (putra beliau) masih hidup, niscaya ia
akan menjadi nabi” (lihat Sunan Ibn Majah Kitab al-Jana’iz oleh Muhammad
ibn Yazid Abu ’Abdullah ibn Majah Qazwini) dan, “Abu Bakar adalah
sebaik-baik orang sesudahku, kecuali bila ada seorang nabi muncul” (lihat
Kanzul ‘Ummal fi Sunan al-Aqwal wa’l Af’al oleh Syaikh ‘Ala-ad-Din ‘Ali
al-Muttaqi).”
Ayat Khaataman Nabiyyiin turun berkenaan dengan peristiwa pernikahan
Rasulullah s.a.w. dengan Siti Zainab r.a., mantan istri Zaid Bin Haritsah
yang diangkat oleh Rasulullah s.a.w. sebagai putra beliau. Ketika
peristiwa itu terjadi, orang-orang munafik mencela Rasulullah s.a.w.
karena menikahi bekas istri anak beliau sendiri. Allah Ta’ala menjawab
celaan itu dalam surah Al Ahzab ayat 5 dan 6 yang menyatakan bahwa
anak-anak angkat bukanlah anak dalam arti yang sebenarnya. Ayat Khaataman
Nabiyyiin secara lebih tegas lagi menyatakan bahwa “Muhammad bukanlah
bapak salah seorang laki-laki di antara kamu”. Bahwa Zaid r.a. sebagai
putra Rasulullah s.a.w. adalah salah. Bahkan dalam ayat ini digunakan
kata-kata مَّا كَانَ yang tidak hanya berlaku untuk masa sekarang tetapi
juga untuk masa yang akan datang. Hal ini diperkuat dengan bagian akhir
dari ayat ini yang menyatakan وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا
bahwa Allah Ta’ala Maha Mengetahui segala sesuatu dan sifat ini berlaku
baik dulu, sekarang, maupun yang akan datang.
Dengan demikian kata-kata مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن
رِّجَالِكُمْ berarti bahwa Hazrat Muhammad s.a.w. bukanlah ayah dari
seorang laki-laki dewasa baik di masa dahulu, sekarang maupun di masa yang
akan datang.
Akan tetapi pernyataan ini terlihat bertentangan dengan surah Al Kautsar
ayat 4 :
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
Sesungguhnya, musuh engkau, dialah yang abtar, tanpa keturunan.
Pernyataan bahwa Hazrat Muhammad s.a.w. bukanlah bapak dari seorang
laki-laki dewasa bertentangan dengan nubuwwatan bahwa musuh beliaulah yang
tanpa keturunan. Berkenaan dengan inilah Allah Ta’ala berfirman
وَلَكِن رَّسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ
Pernyataan ini menghapus segala kesalahpahaman mengenai pernyataan
sebelumnya (Muhammad bukanlah bapak salah seorang diantara laki-lakimu).
Meskipun Rasulullah s.a.w. bukanlah bapak biologis seorang laki-laki
dewasa, tetapi beliau adalah Rasul Allah dan Khaataman Nabiyyiin. Seorang
Rasul Allah adalah bapak rohani bagi umatnya. Dan Khaataman Nabiyyiin
berarti bahwa Rasulullah s.a.w. bukan hanya bapak rohani bagi umat beliau
tetapi juga bapak rohani bagi nabi-nabi. Putra-putra musuh beliau ketika
memeluk Islam memutuskan hubungan mereka dengan bapak-bapak mereka dan
menisbahkan namanya kepada Hazrat Rasulullah s.a.w. sehingga musnahlah
keturunan musuh-musuh beliau. Sebaliknya, keturunan rohani Rasulullah
s.a.w. terus berkembang pesat dan akan terus berkembang hingga hari kiamat
dan beberapa diantaranya akan dianugrahi pangkat kenabian.
Dengan demikian, bila ayat Khaataman Nabiyyiin dan surah Al Kautsar di
baca bersama-sama, hanya pengertian di atas yang bisa muncul. Bila ayat
Khaataman Nabiyyiin diartikan “Muhammad bukanlah bapak salah seorang
diantara laki-lakimu, akan tetapi ia adalah Rasul Allah dan penutup
sekalian nabi”, maka ayat ini akan kehilangan maknanya dan tidak relevan
dengan konteks yang dibicarakan. Terlebih lagi hal itu justru akan
mendukung celaan orang-orang kafir yang diisyaratkan dalam surah Al
Kautsar.
3 comments April 21, 2007
Diproteksi: Makna Ayat Khataman Nabiyyiin (Bag. I)
Masukkan kata sandi Anda untuk melihat komentar April 21, 2007
Kualitas Ilahi dalam Rahiimiyyat
KHUTBAH JUM’AT HADHRAT AMIRUL MUKMININ KHALIFATUL MASIH V aba
Tanggal 9-2-2007 dari Mesjid Baitul Futuh, United Kingdom
Setelah mengucapkan Syahadat, memohon perlindungan dan menilawatkan Al-Faatihah, Hudhur aba membaca ayat Kitab Suci Al-Qur’an:
Surah An-Nahl (16) ayat 19:
Dan sekiranya kamu menghitung-hitung nikmat Allah, sekali-kali kamu tidak akan dapat menghitungnya. Sesungguhnya, Allah itu Maha Pengampun, Maha Penyayang.
Dalam beberapa khutbah terakhir, saya telah membicarakan sifat Ar-Rahmaan dari Tuhan dan hari ini saya akan membicarakan tentang sifat Rahiim. Sebagaimana yang kita semua ketahui, di dalam Surah Al-Faatihah, Surah pembukaan dari Kitab Suci Al-Qur’an yang kami baca pada tiap rakaat shalat itu, di dalamnya ada sifat ketiga dari Tuhan ini yang disebut Ar-Rahiim.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s.
bersabda bahwa kualitas ke-3 di dalam Tuhan yang merupakan macam ke-3 dari nikmat kebaikan-Nya adalah sifat Ar-Rahiim yang disebutkan di dalam Surah Al-Faatihah. Menurut terminology dari Kitab Suci Al-Qur’an, Allah itu disebut Rahiim di mana Allah Taala menerima amal perbuatan baik dari orang dan menerima doa mereka serta Dia melindungi mereka dari kegagalan atas perbuatannya dan hasil dari perbuatan mereka.
Di dalam menjelaskan sifat ini, beberapa ulama cendekiawan agama dan para ahli tafsir telah menyebutkan beberapa macam artinya yang akan saya bicarakan di sini di mana kemudian saya akan menyampaikan apa yang ada di dalam kata-kata dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Setelah membaca kutipan dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. ini maka saudara-saudara tidak perlu memerlukan bukti lain-lainnya, karena dengan membicarakannya maka orang itu akan dapat mengetahui betapa pandangan dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. itu, di mana Allah-lah telah memberikan pengertian dan pengetahuan langsung dari Tuhan, yang hanya dimiliki oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s., karena beliau itu adalah Al-Masih dan Imam Mahdi yang telah dibangkitkan sesuai dengan janji nubuatan dari Y.M. Rasulullah s.a.w.
.
Secara singkat pertama-tama saya akan menyampaikan kepada saudara-saudara tafsir dari beberapa orang ulama cendekiawan agama terdahulu dan para ahli tafsir:
Di dalam Mufridat, Imam Raghib mengatakan Ar-Rahiim adalah Wujud Penyayang yang tidak terkirakan besar dan banyaknya. Aqrab al—Mawarid mengatakan bahwa Ar-Rahiim ada satu Wujud yang memperlihatkan Kasih-Sayang dan ini adalah salah satu dari sifat-sifat Allah.
Apa yang dibicarakan dalam Kamus Lexicon kami menemukan arti-arti seperti ini dan lebih baik saya tinggalkan saja dan saya akan menyebutkan tafsir dari beberapa orang ahli tafsir mengenai kata ini, sebagaimana yang sudah saya katakan, kemudian baru akan saya sampaikan kutipan dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s.
Dalam tafsir Aljami, dari Abu Abdullah Muhammad ibn Ahmad al–Qurthubi, ia mengatakan dengan membawakan sifat Ar-Rahiim itu segera setelahnya sifat Ar-Rahmaan, Muhammad ibnu Ali asy-Syaukani mengatakan bahwa setelahnya memberikan karunia keberkahan itu, maka ini adalah keberkahan yang kedua dari Tuhan dan yang merupakan pelimpahan karunia kedua oleh Tuhan. Ini adalah untuk memperkuat harapan saudara-saudara dari Tuhan dan ini adalah sebuah janji yang sedemikian rupa, bahwa tidak ada orang yang menaruh keyakinan kepada-Nya, lalu kemudian ia akan mahrum atau tidak akan mendapatkannya. Menurut konsesnus dari para ulama, Ar-Rahiim adalah satu hal yang khusus sedangkan Ar-Rahmaan bersifat secara umum.
Abu’l Hasan Ali Farsi mengatakan bahwa Ar-Rahiim adalah selalu merujuk atau berkaitan dengan orang-orang mukmin, dalam membicarakan Ar-Rahmaan ia mengatakan di mana sifat Ar-Rahiim hanya dikaitkan kepada orang-orang mukminin saja. Sebagaimana Allah berfirman:
Surah Al-Ahzaab (33) ayat 44:
…………… Dan Dia Maha Penyayang terhadap orang-orang yang beriman.
Abdal Malik ibn Hisyam mengatakan bahwa sifat Rahiim itu adalah untuk membimbing orang-orang dan untuk memperlihatkan nikmat kebaikan dari Tuhan.
Ibnu Mubarik mengatakan bahwa Ar-Rahmaan adalah Dia Yang apapun yang engkau minta daripada-Nya atau tidak minta Dia itu akan memberikannya kepada-mu. Ar-Rahiim adalah Wujud itu yang jika engkau tidak meminta kepada-Nya maka Dia akan merasa tidak senang.
Di dalam Tirmidzi di sana ada riwayat dari Abu Hurairah r.a bahwa Y.M. Rasulullah s.a.w. bersabda: Man lam yadullahu subhanallahu wa jibailaihi (?) bahwa seseorang yang tidak meminta dari Tuhan, tidak bersujud memohon kepada-Nya, Allah akan mengutuknya.
Salah satu dari syair di dalam baitnya dalam bahasa Arab bahwa Allah adalah Dia yang jika engkau meninggalkan dan tidak meminta kepada-Nya dan tidak memohon kepada-Nya, maka Dia itu tidak akan merasa senang, di mana kebalikannya dari itu bahwa ada orang-orang yang sedemikian rupa sehingga jika ada orang yang minta kepadanya, maka mereka menjadi tidak senang. Jadi, jika ada orang yang terus mendesak meminta kepadanya sehingga akhirnya ia terpaksa untuk memberinya, tetapi mereka juga memperingatkan kepadanya agar tidak minta-minta lagi.
Kemudian di dalam kutipan yang sama ialah bahwa Bismillahirrahmanirrrahiim, Allah menggunakan Rahiim untuk mengatakan kepada-mu bahwa engkau itu hanya dapat mencapai kepada-Ku yaitu dengan melalui hubungan dari Y.M. Rasulullah s.a.w.
Ada riwayat lainnya, ketika Y.M. Rasulullah s.a.w. ditanya, beliau mengatakan bahwa Ar-Rahmaan berarti bahwa Dia itu memperlihatkan kemurahan-Nya kepada semua yang baik dan yang buruk. Ar-Rahiim adalah untuk memperlihatkan kemurahan-Nya khususnya kepada orang-orang yang beriman. Kadang-kadang sifat Ar-Rahmaan akan disebut juga karena akar dari kedua kata itu adalah sama.
Allama Fakhruddin Razi mengatakan bahwa Ar-Rahmaan adalah khusus untuk Tuhan, sedangkan Ar-Rahiim digunakan untuk Tuhan dan juga untuk yang lainnya. Jika dikatakan bahwa dengan cara ini Ar-Rahmaan adalah lebih tinggi, lalu kemudian mengapa sifat yang lebih rendahnya disebutkan setelahnya itu, yaitu yang pertama Rahmaan dan mengapa baru kemudian Rahiim. Jawaban atas pertanyaan ini ialah bahwa satu wujud yang paling tertinggi adalah bahwa engkau itu tidak meminta kepada-Nya hal-hal yang kecil. Dikatakan bahwa ada seseorang yang mengunjungi seorang besar dan mengatakan: “Saya datang kepada Tuan untuk hal-hal yang kecil.” Orang besar itu akan mengatakan mengapa engkau tidak datang untuk meminta barang-barang yang kecil itu kepada kepada orang yang kecil saja? Jadi, Allah telah mengatakan bahwa jika engkau itu akan menghentikan sifat Rahmaan maka engkau akan merasa ragu-ragu untuk meminta kepada-Ku, engkau akan berhenti untuk meminta hal-hal yang kecil dari-Ku. Tetapi sebagaimana yang kalian sudah ketahui Aku adalah Ar-Rahmaan sehingga dengan merujuk ke sana, maka engkau itu akan meminta kepada-Ku hal-hal yang besar. Secara itu pula, Aku adalah Rahiim, oleh karena itu engkau harus meminta kepada-Ku walaupun untuk tali sepatu atau bahkan garam yang diperlukan untuk kalian memasak.
Kemudian Allama Razi mengatakan bahwa Dia adalah Rahmaan dalam arti bahwa Dia itu menciptakan sesuatu yang orang tidak memiliki kekuatan untuk itu dan Dia adalah Rahiim bahwa Dia yang melakukan pekerjaan yang sedemikian, di mana yang orang tidak dapat melakukannya. Jadi, Dia mengatakan Aku adalah Rahmaan karena engkau memberikan kepada-Ku sesuatu hal yang kecil dan Aku memberikan kepadamu bentuk dan ukuran yang besar. Aku adalah Rahiim bahwa engkau itu memberikan kepada-Ku sesuatu yang kecil, tetapi Aku memberikan kepadamu Syurga yang sejati. Jadi, demikianlah saya telah menyampaikan kepada saudara-saudara tafsir dari beberapa ahli tafsir yang utama.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan bahwa sifat Rahiim itu adalah untuk setiap anugerah-Nya, Dia meminta keinginan untuk yang tidak berwujud dan tidak sungguh-sungguh ada dari hamba-hamba-Nya. Jika engkau itu perlu mendapatkan manfaatnya dari sana maka orang yang memiliki pikiran intellectual, ia itu harus meningkatkan rasa merendahkan dirinya dan harus menaruh perhatian pada shalat dan doanya. Hanya dengan cara demikianlah maka ia itu akan meraih anugerah ridha Allah. Kalian itu harus menghilangkan sifat sombong dan bangga diri dari diri kalian dan hanya dengan demikianlah maka engkau akan dapat memperoleh manfaat dari sifat Rahiim ini. Jika engkau itu mengerjakan amal perbuatan yang baik maka barulah engkau akan memperoleh berkah-berkah daripada-Nya; karena jika engkau itu memiliki semacam kebanggaan dan kesombongan, maka orang seperti ini tidak dapat menghadirkan dirinya di hadapan Tuhan. Dengan kerendahan hati itulah diperlukan bagi orang yang menyembah kepada Allah. Oleh karena itu agar dapat menghadirkan dirimu di hadapan Tuhan, maka untuk itu diperlukan bahwa engkau itu harus menganggap bahwa dirimu itu sebagai tidak ada apa-apanya dan tidak ada hal yang penting yang ada dirimu.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. selanjutnya bersabda bahwa Ar-Rahiim ialah bahwa Tuhan Yang memberikan kepadamu ganjaran pahala yang besar dari amal perbuatan baikmu dan Yang tidak akan membiarkan amalanmu itu terbuang dengan percuma. Untuk ini, sifat-Nya itu disebut Ar-Rahiim dan yang disebut sebagai sifat Ar-Rahiim dari Tuhan. Dua kutipan pertama yang saya telah menyebutkannya dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s., diterangkan selanjutnya, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan sifat Rahiim adalah kedermawanan dari Tuhan yang khusus untuk sifat Rahiim. Berkah ini adalah bagi penciptaan dari manusia dan peningkatan kemajuannya sampai pada tingkatannya yang tertinggi. Tetapi untuk ini diperlukan untuk mengadakan usaha, untuk berbuat amal shaleh dan untuk menekan hawa nafsumu. Kalian tidak akan memperoleh anugerah dari sifat Rahiim ini kecuali jika engkau berbuat secara maximum dan dengan menghancurkan ego keinginan serta sifat riya kalian yang dapat menyebabkan kalian itu tidak suci, selama engkau itu tidak mau menderita seperti berhadapan dengan maut demi untuk dapat meraih ridha Allah ini. Jadi, beberkatlah mereka yang kepadanya telah dianugerahi dengan keberkatan ini, di mana mereka ini adalah yang benar-benar manusia sedangkan yang lainnya adalah seperti binatang dan hewan ternak. Ini berarti bahwa pernyataan ini memperlihatkan bahwa sifat dari Tuhan ini akan meningkatkan kualitas dari seorang manusia sampai pada kesempurnaannya. Mereka, orang-orang yang sudah mencapai kesempurnaannya ini, Allah Taala telah mengajarkan kepada kita di dalam Surah Al-Faatihah bahwa engkau itu harus berdoa bahwa masukkanlah kami di antara orang-orang yang memperoleh kesempurnaan itu. Siapakah mereka ini, mereka ini adalah orang-orang yang kepadanya telah Allah anugerahi berkah-berkah daripada-Nya.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda dalam hal ini bahwa lautan yang ke-4 adalah bab Ar-Rahiim dengan doa:
yang merujuk ke sana. Jadi, bahwa seseorang manusia itu dimasukkan di antara mereka yang sudah memperoleh berkah-berkah khusus dari Tuhan, karena sifat Rahiim itu adalah bahwa yang menyebabkan engkau sampai pada keistimewaan yang khusus di mana tidak ada lagi orang lainnya yang termasuk di dalamnya. Walaupun kedermawanan umum dari Tuhan itu membawa semua binatang dan serangga yang melata itu berada di dalam kedermawanan-Nya. Ini adalah kedermawanan lainnya yang dapat diraih oleh manusia melalui sifat Rahiim. Sebagaimana Allah berfirman:
Surah Al-Nisaa ayat 70:
Dan, barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk di antara orang-orang yang kepada mereka Allah memberikan nikmat, yakni: Nabi-nabi, Shiddiq-shiddiq, Syahid-syahid, dan orang-orang shaleh. Dan mereka itulah sahabat yang istimewa, yang sejati.
Mereka yang taat kepada Tuhan dan kepada Utusan-Nya, mereka ini akan dimasukkan di antara orang-orang yang kepadanya Allah telah mencurahkan berkah-berkah-Nya, yaitu para Nabi, orang-orang yang benar, para Syuhada dan orang-orang yang shaleh. Jadi, kebaikan dari sifat Rahiim ini memerlukan beberapa tindakan dan perbuatan dari pihak manusia seperti yang telah dikatakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Hal yang mendasar di sini ialah untuk mentaati dengan sempurna dan dengan sepenuhnya kepada Allah dan Utusan-Nya, hanyalah dengan cara ini maka kalian itu berhak untuk mendapatkan berkah-berkah daripada-Nya. Kalian itu perlu untuk meningkatkan standard dari peribadatan kalian dan kalian pun harus melakukan amal perbuatan yang baik seperti yang telah diterangkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s., yang berarti bahwa engkau itu harus menekan hawa nafsu keinginanmu dan menghancurkannya sama sekali. Setiap perbuatan itu haruslah sedemikian rupa, yaitu hanyalah demi untuk meraih ridha Allah semata, di dalam mana keinginanmu itu tidak termasuk di dalamnya. Ini bukanlah satu pekerjaan yang mudah, tetapi sangatlah sukar di mana engkau itu harus mengurbankan dirimu sendiri dan mengurbankan nafsu keinginanmu. Dengan tanpa menghancurkan ego keinginanmu itu, maka engkau tidak akan dapat memperoleh bagian yang penuh dari kemurahan Allah tersebut.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa hal itu tidak sepenuhnya turun, oleh karena itu untuk terkabulnya doa, untuk dapat menerima kebaikannya dari sifat Tuhan Rahiim, kalian itu harus mencarinya sendiri. Tetapi sejauh manakah bahwa perbuatanmu itu adalah bagus dan sudah seberapa jauhnyakah kami ini mengerjakan tugas kami terhadap Allah dan tugas kami terhadap sesama manusia serta bagi keperluan mereka itu kami harus mensirnakan kesenangan dan keinginan kami sendiri. Jika tidak begitu maka pernyataan kami itu adalah palsu bahwa kami itu hanya menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa, hanya bersujud kepada Tuhan dan kami itu memang benar-benar beriman kepada-Nya.
Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah mengatakannya bahwa saudara-saudara itu perlu berusaha dengan sekuat tenaga dan bekerja keras, harus melakukan suatu jihad, maka hanya dengan demikianlah saudara itu akan dapat disucikan dengan sempurna. Jika masih ada kepura-puraan, maka hati kami itu hanya dapat dibersihkan dengan sebersih-bersihnya jika sudah dapat dihilangkan dari perasaan pura-pura dan riya, maka barulah setelah itu, hati kami ini akan dapat memperoleh ridha dari Allah. Bilamana keadaan ini dapat diperoleh, maka Allah sesuai dengan janji-Nya itu akan memasukkan kami di dalam golongan orang yang tentang itu Allah telah berfirman yaitu mereka adalah Nabi-nabi, para Siddiq, para Syuhada dan orang-orang yang shaleh. Baru kemudian kami dapat menyaksikannya di dalam kehidupan kita ini dan kami dapat melihatnya hal itu berjalan. Kemudian Allah Taala juga telah berjanji: Wa in ta’udduu ni’matallahi laa tuhshuuhaa (16:19) bahwa Allah itu akan memperlihatkan berkah-berkah yang sedemikian banyaknya sehingga kalian tidak akan mampu untuk dapat menghitung-hitungnya.
Jadi, untuk dapat meraih kebaikan ini untuk dapat memperoleh bagian dari sifat Rahiim-Nya itu, dengan melakukan istighfar, meminta ampunan dari Allah, kami itu harus mengadakan reformasi di dalam perbuatan kami; hanya setelah itulah kami akan memperoleh manfaat dari keberkatan ini, dari sifat ini. Berkah-berkah dari Allah ada pada semuanya, dan tidak berada di luar tetapi ada di bawah sifat Rahmaan. Tetapi untuk mendapatkan bagian dari sifat Rahiim itu seorang penyembah Tuhan yang adalah hamba-Nya Tuhan, yang menjadi orang yang tahu bersyukur kepada-Nya.
Ini adalah suatu berkah yang besar dari Allah di zaman ini bahwa Dia itu telah memberi kemampuan kepada kita untuk dapat mempercayai Al-Masih dan Imam Mahdi di mana orang-orang lain itu menolak beliau a.s., yang pada kenyataannya adalah merupakan penolakan terhadap kebaikan anugerah dari sifat Rahiim itu.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dengan mengambil petunjuk dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s., Allah Taala telah mengirimkan bermacam jalan kepada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. untuk menyebarkan nur. Orang-orang Muslim lainnya pada pergi ke kuburan dari orang-orang suci dan orang Faqiir di mana mereka itu punya pikiran bahwa nur itu datang dari mereka ini sehingga mereka itu terjerumus pada bid’ah dan keburukan, karena nur atau cahaya itu telah mereka matikan. Oleh karena itu, di zaman ini untuk mendapatkan bagian dari sifat Rahiim Tuhan itu maka seorang Ahmadi haruslah berpikir bahwa jalan pada sifat Rahmaan Allah itu telah memasukkan kami di dalam sifat Rahiim-Nya. Dengan mengabulkan doa-doa dari orang-orang yang baik ini, dikarenakan oleh sifat Rahiim-Nya semoga Allah memberikan kemampuan kepada yang lainnya juga untuk dapat menerima Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Berkat-berkat ini dan ganjaran pahala ini mempersyaratkan bahwa kami itu harus senantiasa bersyukur dan harus berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan kepada Utusan-Nya, melakukan amal shaleh dan selalu meminta ampunan daripada-Nya. Kami itu harus tetap memperhatikan berkah-berkah dari dunia ini dan berkah-berkah spiritual juga dan kemudian berpikir dan menyadari akan berkah apa lagi yang Dia belum perlihatkan kepada kami. Dia telah memberkati kami dengan berbagai macam keberkahan dan juga menunjukkan kepada kami jalan bahwa kami itu harus terus dan senantiasa meminta ampunan bagi kita. Karena untuk tetap menjalankan keshalehan ini dan untuk meningkatkan standardnya adalah perlu untuk meminta ampunan dari Allah, melakukan istighfar dan untuk terus maju di dalam ilmu pengetahuan dan di dalam perbuatan amal shaleh serta dalam spiritualitasnya itu adalah perlu untuk memperlihatkan kerendahan hati dan untuk meminta ampunan dari Allah, karena jika tidak begitu, perasaan sombong dan berbangga diri itu dapat menarik orang yang baik pada keburukan. Bahwa hal itu bukannya akan meningkat naik tetapi akan menurun sehingga keshalehannya itu tak akan ada gunanya bagi mereka ini. Oleh karena itu dengan sifat Rahiim dari Tuhan itu adalah perlu bagi seseorang untuk mengambil manfaatnya dari sana, untuk melakukan istighfar yakni meminta ampunan dari Allah. Itulah sebabnya mengapa di kebanyakan tempat di mana Allah itu menggunakan sifat Rahiim, Dia itu telah meng-kualifikasikannya dengan sifat Ghafoor. Oleh karena itu untuk mengambil manfaat dari sifat Rahiim itu saudara-saudara harus melakukan perbuatan amal shaleh dan juga meminta ampunan dari Allah. Inilah hal-hal yang paling mendasar.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa di sana juga ada sebuah aspek yang mencakup Rahiim. Tetapi sebelum pencakupan ini adalah perlu juga bahwa kalian itu melakukan beberapa tindakan. Jika terdapat sesuatu kelemahan di dalam tindakan atau perbuatan tersebut maka Allah akan menutupinya dengan sifat Rahiim-Nya itu.
Perbedaan antara sifat Rahmaan dan Rahiim adalah bahwa Rahmaan itu tidak tergantung pada perbuatan seseorang, tetapi Rahiim itu tergantung pada tindakan atau perbuatan seseorang. Tetapi dikarenakan orang itu juga lemah maka kasih-sayang Allah itulah yang harus menutupinya. Oleh karena itu dalam memberikan penjelasan selanjutnya itu, mengapa Allah itu telah menempatkan sifat Rahiim itu dengan sifat Ghafoor, sehingga dengan kasih sayang-Nya itu Allah demi untuk hamba-Nya itu akan menutupinya dengan selimut penutup daripada-Nya dan akan terus menutupi kekurangan-kekurangan mereka ini, jika kalian itu tidak melakukan sesuatu tindakan apa pun maka kalian dapat berharap bahwa Allah akan menutupinya; jika kalian telah melakukan sesuatu pekerjaan yang buruk, maka kalian haruslah meminta ampunan dari Allah sehingga kalian akan dapat memperoleh penutup dari maghfirat Allah di mana Dia akan menutupi kesalahanmu. Saudara-saudara jarus menaruh perhatian akan hal ini; Allah Taala berfirman:
Surah Al-An’aam (6) ayat 55:
……. Tuhan-mu telah menetapkan atas diri-Nya memberi rahmat kasih sayang, sehingga barangsiapa di antaramu itu berbuat kejahatan karena kebodohannya, lalu dia bertaubat sesudah itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
bahwa Allah itu telah membuatnya wajib atas rahmat kasih-sayang-Nya. Tetapi jika orang itu melakukan sesuatu perbuatan yang salah dan kemudian ia bertobat serta memperbaiki dirinya, maka tidak perlu khawatir karena Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Di sini juga ada contoh yang sama bahwa Allah itu memberikan ampunan tetapi orang itu harus bertobat. Saya telah memberikan contoh dari seseorang yang telah membunuh sebanyak 99 orang, yang kemudian menambahnya dengan membunuh satu orang lagi, dan kemudian ia berusaha melakukan tobat maka Allah Taala telah menciptakan jalan-jalan untuk pengampunan-Nya. Jadi, untuk mengambil manfaat sebesar-besarnya dari sifat Rahiim itu adalah dengan bertobat dan bersujud kepada-Nya serta melakukan perbuatan amal shaleh, inilah yang paling terpenting.
Dengan menjelaskan falsafahnya dari doa dan sifat Rahiim itu, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa rahmat kasih sayang kedua dari Tuhan itu adalah sifat Rahiim ini, bahwa jika kita itu berdoa maka Allah akan mengabulkannya. Jika saudara-saudara itu mau merenungkannya, saudara akan tahu bahwa hukum alam itu selalu berkaitan dengan doa. Ada orang-orang yang punya pikiran bahwa yang demikian itu merupakan bid’ah, bahwa doa kami itu dikaitkan dengan Tuhan, tentang hal ini saya akan menerangkannya.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda jika seorang bayi menangis karena kehausan, maka air susu akan keluar dari dada ibunya. Apakah tangisannya itu akan membuat air susu itu? Kami sudah punya pengalaman bahwa kadang-kadang bahkan sang ibu itu merasa sudah tidak punya air susunya lagi, tetapi tiba-tiba, dengan tangisan dari bayinya itu, ini akan menarik dan mengeluarkan air susu tersebut. Jadi, jika kita itu dapat menangis maka tangisan ini akan dapat menarik keluar sesuatu dari kasih-sayang-Nya Tuhan, dan memang hal itu akan datang. Mereka yang buta dan yang berpikir bahwa kami adalah ahli falsafah, mereka ini tidak akan dapat melihatnya. Jika kalian melihat tentang hubungan bayi-bayi ini dengan ibunya, jika kalian terus memperhatikan dan merenungkannya dengan falsafahnya dari doa, maka hal itu akan nampak dengan sangat mudahnya, mudah untuk dapat dimengerti. Di sana ada rahmat kasih sayang yang timbul satu kali saudara itu memintanya. Jika engkau terus memintanya maka Aku akan memberikannya bagimu:
Surah Al-Mu’min (40) ayat 61:
………….. “Berdoalah kepada-Ku; Aku akan mengabulkan bagi kamu.”
Ini bukanlah hanya kata-kata belaka, ini adalah bagian yang amat penting dari sifat naluri alamiahnya manusia. Di dalam diri orang itu terdapat sebuah kualitas untuk meminta dan bagi Allah adalah untuk memberinya, inilah kualitas-Nya Dia itu. Sebagaimana yang sudah saya sebutkan contoh dari seorang bayi yang menerangkan tentang falsafahnya dari doa. Rahmaan dan Rahimiyaat itu bukanlah dua hal yang berbeda; tetapi jika seseorang itu meninggalkan yang satunya maka ia tidak akan dapat mengambil yang lainnya. Rahmaan mempersyaratkan bahwa Dia itu menciptakan suatu kemampuan di dalam diri kita dengan mengambil manfaat dari sifat Rahiim. Orang yang tidak melakukan hal ini maka ia itu mengingkari akan berkah-berkah dari Allah. Jadi, apa yang Allah telah ciptakan jalan-jalan di bawah sifat Rahmaan-Nya itu adalah untuk membuat hidup kehidupan kami. Benda-benda materi apa pun yang kami miliki dan jalan-jalan spiritual apa pun yang Dia telah sediakan bagi kita sebagaimana yang saya sudah menyebutkannya tadi, Allah berfirman bahwa jika engkau akan mengucapkan rasa syukur kamu atas berkah-berkah dari Kami itu, di mana engkau itu tidak akan pernah mampu untuk dapat menghitung berkah-berkah dari-Ku itu. Oleh karena itu berkah ini mempersyaratkan bahwa apa pun yang Allah telah berikan kepada kita di bawah sifat Rahmaan-Nya maka untuk mengambil manfaatnya dengan lebih banyak lagi dari sana yaitu di bawah sifat Rahiim-Nya dan untuk dapat meneruskannya itu, kita harus berdoa dan bersujud kepada-Nya dan juga melakukan perbuatan amal yang baik.
Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengatakan selanjutnya tentang Ar-Rahiim bahwa kebaikannya itu adalah sebuah kebaikan dan kedermawanan yang khusus, yaitu khusus bagi umat manusia; kepada benda dan mahluk lainnya tidak diberikan kemampuan untuk mengerjakan amal shaleh dan berdoa serta bersujud. Tetapi seorang manusia adalah orang yang dapat berbicara di mana ia dapat mengucapkannya dengan kata-kata, ia dapat menggunakan kemampuannya berbicara sehingga ia dapat meminta kepada Allah dan memperoleh manfaatnya dari situ.
Kepada mahluk ciptaan yang lainnya tidak diberikan kekuatan atau kemampuan untuk berbicara ini; oleh karena itu hal ini menunjukkan bahwa kualitas dari seorang manusia itu adalah untuk berdoa, dan ini sudah dimasukkan di dalam nalurinya. Sebagaimana sifat Rabb Allah dan sifat Rahmaan itu yang faedahnya diambil dari sana maka demikian jugalah sifat Rahiim itu yang juga memberikan sebuah kebaikan. Perbedaannya adalah bahwa pada sifat Rahmaan dan Rabb itu tidak diperlukan untuk meminta, karena kedua sifat ini tidak khusus dikaitkan dengan orang saja. Kedua sifat ini memberikan manfaat pada semua ciptaan Tuhan, binatang-binatang, burung-burung dan mahluk lainnya. Semua tumbuh-tumbuhan, binatang dan hewan serta segala sesuatu yang berada di alam jagat raya semuanya memperoleh manfaat dari sifat Rahmaan ini; termasuk umat manusia, sifat Rahmaan ini memberi manfaat kepada segala sesuatu yang ada di dalam alam semesta ini, seperti planet-planet dan segala apa pun yang ada semuanya mendapatkan manfaat dari kualitas Rahmaan ini dan tidak ada sesuatu apa pun yang di luar dari ini.
Berlawanan dengan sifat tersebut adalah sifat Rahiim yang telah dibuat khusus untuk manusia, ini adalah suatu nikmat dan kebaikan yang khusus bagi manusia. Jika orang itu tidak mengambil manfaatnya dari sifat Tuhan ini, maka orang yang semacam itu adalah sama saja dengan mahluk-mahluk lainnya, atau seperti hewan; karena ia itu tidak lagi sebagai orang jika ia itu tidak mengambil manfaatnya dari sifat Rahiim ini; ia ini adalah seperti hewan ataupun bahkan seperti barang yang tidak bernyawa.
Dimana Allah Taala telah menyebutkan 4 macam kualitas, yang disebutkan di dalam sifat Rahiim Tuhan itu mempersyaratkan orang itu untuk berdoa dan untuk bersujud, yang khusus diperuntukkan bagi manusia, yang memperlihatkan bahwa sebuah kualitas di dalam Tuhan ini dihubungkan dengan bersujud dan meminta, yang dengan tanpa doa, maka hal itu tidak akan dapat terjadi.
Ini adalah sunatullah yang tidak akan pernah berubah. Itulah sebabnya mengapa Nabi itu selalu berdoa bagi para pengikutnya. Kenyataannya adalah bahwa jika saudara itu berdoa maka suatu kebaikan itu akan turun dan yang akan memberikan kelapangan kepada kami, yang akan melepaskan kami dari kesulitan, dan inilah kebaikannya dari sifat Rahiim itu, di mana orang itu akan terus maju. Dengan kebaikan ini seseorang itu dapat mencapai pada kedudukan yang Suci dan yang memiliki kepastian yang sedemikian akan keberadaan Wujud dari Tuhan seolah-olah ia itu dapat melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, atau setidaknya memiliki keyakinan bahwa Tuhan itu melihat dan memperhatikan dia.
Semoga Allah Taala membuat kami ini mengerti sepenuhnya akan sifat Rahiim dari Tuhan ini dan dapat mengaplikasikannya pada kehidupan kita, di mana kita itu harus berbuat dengan sepenuh tenaga dalam hal ini sehingga dengan karunia kemurahan Allah, maka kita itu akan dapat memperoleh manfaat dari berkah-berkah Allah ini dengan ganjaran pahala daripada-Nya serta memasukkan kita di dalam golongan orang-orang yang kepadanya telah dilimpahi dengan hujan nikmat-nikmat dan keberkahan daripada-Nya itu. Aamiiin
Add comment Februari 21, 2007
Inspirasi dan Wawasan bagi Pemimpin
Kepemimpinan 101
John C. Maxwell
Gunakan kekuasaan untuk membantu orang. Kita diberi kekuasaan tidak untuk meraih tujuan pribadi, atau membuat pertunjukan terbesar didunia, dan bukan untuk mendapatkan nama. Hanya ada satu kegunaan kekuasaan, yakni membantu orang.
Kegagalan dapat dibagi menjadi dua sebab. Yakni orang yang berfikir tapi tidak pernah bertindak dan orang yang bertindak tetapi tidak pernah berpikir.
Reverend W.A. Nance
Pemimpin harus dekat dengan bawahan tetapi sebatas memotivasi
John Maxwell
Sebagian besar kita tahu bahwa pemimpin tidak hanya punya visi saja. Kalau hanya bermimpi, setiap orang pun bisa. Kepemimpinan yang efektif tahu bagaimana menentukan langkah-langkah untuk bertindak untuk diri sendiri dan organisasi sehingga visi dapat direalisasikan. Ini mengharuskan kita untuk bertindak praktis dan memahami proses.
Orang harus cukup tegar untuk memaafkan kesalahan, cukup pintar untuk belajar dari kesalahan, dan cukup kuat untuk mengoreksi kesalahan.
Anda punya gagasan cemerlang. Namun jika Anda tidak dapat menyampaikan gagasan, gagasan Anda tidak akan beranjak kemanapun
Lee Iacocca
Anda harus hidup dengan orang untuk mengetahui masalah mereka, dan hidup dengan Tuhan untuk memecahkan masalah mereka
P.T. Forsyth
Nasib merupakan sisa dari rancangan
Branch Rickey
Semua kemenangan berasal dari berani memulai
Eugene F. Ware
To..be..continue..
1 comment Februari 8, 2007
The Passion of Jesus a.s.
|
Oleh : Rafi Ahmad
I. Pendahuluan, Beberapa Fatwa Ulama Besar
Berkenaan topik penyaliban Isa a.s., memang berkembang beberapa pemahaman.
1. Kristiani beranggapan bahwa Yesus wajib wafat ditiang salib, hidup kembali, dan naik ke langit (karena inilah inti dari ajaran penebusan dosa).
2. Yahudi juga berkeinginan untuk membunuh Yesus (Isa a.s.) karena dia adalah hamba yg terkutuk.
3. Muslim (sebagian besar) beranggapan bahwa Isa a.s. dihindarkan dari hukuman salib dan orang lainlah yg dikorbankan, dan kemudian Isa a.s. naik kelangit dengan jasmaniyah nya (untuk hal naik ke langit sepemahaman dengan keyakinan umat kristiani).
Semoga saya diberi karunia oleh Allah SWT untuk bisa membuat rangkaian tulisan yg panjang ini dengan berdasarkan dalil-dalil yg dapat dipertanggung jawabkan, amin.
Kali kesempatan pertama ini, sebagai rasa hormat saya kepada Institusi Al Azhar, maka ijinkan saya untuk mengutip tulisan/pendapat Syeikh Mahmoud Shaltout (Rektor Universitas Al Azhar Cairo, Mesir). Pendapat beliau ini adalah berkenaan apakah Isa a.s. sudah wafat atau masih hidup (naik ke langit). Karena panjangnya tulisan beliau maka saya hanya akan mengutip beberapa pokok tulisan beliau.
Beliau mengutip ayat 115 – 117 dari surah Al Maidah, dan dalam ayat ini ada kata “tawaffaytani” yg maknanya adalah mewafatkan. Dan beliau dalam mengartikan kata tawaffaytani ini juga merujuk kepada ayat 32:11, 4:97, 8:50. Kemudian Syeikh Syaltot menulis : “Oleh sebab itu adalah masuk akal, bahwa perkataan tawaffaytani yg disebut dalam di atas sehubungan dengan Nabi Isa a.s. (Yesus) dalam surah Al Maidah (115 & 116) akan bermakna kematian alami secara wajar yg orang-orang memahami dan yang orang-orang berbahasa Arab mengerti dari teks dan konteks hubungan kedua-duanya. Maka jika kita ambil ayat ini menurut makna yg aseli dan sesuai haruslah disimpulkan bahwa Nabi Isa (Yesus) wafat dan tak ada dalil yg menguatkan anggapan bahwa beliau masih hidup dan kematian tidak terjadi pada beliau. Juga tidak beralasan untuk mengatakan bahwa perkataan mati, wafat, dalam ayat itu bermakna bahwa beliau akan wafat sesudah turun dari langit – menurut pendapat yg tersebar bahwa beliau hidup di langit dan akan turun menjelang akhir dunia. Ini disebabkan ayat itu berbicara dalam istilah yg jelas mengenai hubungan beliau dengan kaum beliau sendiri, bukan kepada kaum lain yg akan ada menjelang hari kiamat dan bukan dengan mereka yg difahami sebagai umat Muhammad saw serta bukan kaum Nabi Isa (di masa datang).” (Al Majallah, Kairo Mesir)
Demikian pula dalam Tafsir Al Azhar Prof Hamka menulis : “Adapun Ulama Indonesia yg menganut faham seperti demikian dan menyatakan pula faham itu dengan karangan ialah guru dan ayah hamba Dr. Syaikh Abdulkarim Amrullah di dalam bukunya al Qaulush Shahih, pada tahun 1924. Beliau menyatakan faham beliau bahwa Nabi Isa meninggal dunia menurut ajalnya dan diangkat derajat beliau di sisi Allah, jadi bukan tubuhnya yg dibawa ke langit”.
“Sayid Rasyid Ridha, sesudah menguraikan pendapat2 ahli tafsir tentang ayat yg ditanyakan ini, mengambil kesimpulan;”Jumlah kata tidaklah ada nash yg shahih (tegas) di dalam Al Qur’an bahwa Nabi Isa telah diangkat dengan tubuh dan nyawa ke l;angit dan hidup di sana …”
Demikianlah saya membuka serial ini dengan mempersembahkan fatwa dari ulama-ulama besar Al Azhar yg mana mereka mengatakan bahwa Nabi Isa a.s. (Yesus) telah wafat dengan wajar.
2. Penangkapan dan Pengadilan
Isa a.s. (yesus) yg sudah mengetahui akan rencana penangkapan akan diri
beliau, menjelang penangkapan beliau bersama murid beliau pergi ke bukit
Getsmani. Di sana beliau berdoa dengan penuh ratap sangat pilu memohon
keselamatan dari hukuman salib (kematian terkutuk).
“Dan mulailah ia merasa sedih dan gentar. Lalu katanya kepada mereka,
“Hatiku sangat sedih seperti mau mati rasanya…” Maka ia maju sedikit,
lalu sujud, dan berdo’a, katanya, “Ya Bapaku, jikalau sekiranya mungkin,
biarlah cawan (kematian) ini lalu dari padaku, tetapi janganlah seperti yg
kuhendaki, melainkan seperti yg Engkau kehendaki”. (Injil Matius 26:
37-39).
“Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdo’a; peluhnya menjadi
seperti titik-titik darah yg bertetesan ke tanah”. (Injil Lukas 22 : 44).
abi Isa a.s. menangis bukan karena takut melainkan menyesali apa yg
diperbuat oleh kaum Yahudi karena semata-mata kebencian dan purba sangka
kepada beliau dan hendak membuktikan bahwa beliau adalah seorang pendusta
dengan kematian terkutuk di tiang salib.
Kaum Yahudi yg dimotori oleh para Ulama Yahudi mengadukan Isa a.s. kepada
Pilatus (Gubernur) agar ia menangkap dan mengadili Isa. Namun sebenarnya
Pilatus enggan untuk menangkap Isa a.s. dan berkata : “Aku tidak mendapati
kesalahan apa pun padanya” (Injil Yohanes 18 : 38).
Kecewa karena Pilatus membela Isa a,s, maka para Musuh Isa a.s. mengancam
akan mengadukan sikap Pilatus kepada Kaisar. Mereka berkata : “Jika engkau
membebaskan dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar…..” (Injil Yohanes 19:12)
Pilatus sebenarnya merasa dan mengetahui bahwa Isa a.s. bukanlah seorang
biasa, terlebih-lebih istri Pilatus memperoleh mimpi bahwa Isa a.s. adalah
orang yg benar sehingga ia berkata kepada suaminya : “Jangan engkau
mencampuri perkara orang yg benar itu, sebab karena dia aku sangat
menderita dalam mimpi tadi malam”. (Matius 27 : 19).
Akhirnya dengan berat hati Pilatus tidak bisa menghindar dari desakan nafsu
kaum Yahudi untuk membunuh Isa a.s. : “Ia harus disalibkan!” Pilatus
mengambil air dan membasuh tangannya. Di hadapan orang banyak dan berkata,
“Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri”.
(Injil Matius 27 : 23-24).
3. Hakikat Hukum Salib (shalb)
Hukuman salib adalah hukuman yg terkenal dan lazim digunakan oleh bangsa-bangsa tertentu zaman dahulu. Orang Romawi sebenarnya tidak pernah menggunakan hukuman salib untuk bangsa mereka sendiri melainkan menerapkannya pada bangsa-bangsa jajahan mereka untuk menghukum orang-orang yg dianggap memberontak kepada Kaisar.
Salib atau shalb berasal dari kata ash-shaliib yg berarti sumsum atau lemak. Dalam bahasa Arab dikatakan ash-haabush-shulubi, yakni orang-orang yg mengumpulkan al-’idhaama (tulang) dan mengeluarkan sumsumnya serta mencampurkannya. Di dalam Al Qur’an dikatakan, “yakhruju min bainish shulbi wat taraaib” (keluar dari antara tulang belakang yg paling bawah dan tulang-tulang dada – QS 86:7). Dalam ayat yg lain dikatakan, “Wa ammal aakharu fasyushlabu fatakuluth-thairu min rasihii” (Dan adapun mengenai yg lain, ia akan disalibkan, burung-burung akan memakan sebagian dari kepalanya – QS 12:41). Jika kita meneliti asal dan makna kata yg terbentuk dari hutuf sh-l-b (shalb) maka artinya adalah tulang atau sumsum.
Prosesi hukuman shalb (salib) itu adalah prosesi hukuman mati yg perlahan-lahan, dan biasanya memakan waktu sampai dengan tiga hari hingga ajalnya tiba. Terhukum akan dipaku ke dua tangannya di tiang salib, dikarenakan berat tubuhnya maka si terhukum akan mengalami kesulitan nafas karena terhimpit paru-parunya hingga akhirnya hal ini akan mempercepat kematian. Oleh karena itu untuk menambah penderitaan (memperlama proses kematian) maka pada telapak kaki diberikan sandaran papan di kakinya dipakukan kepada papan tsb (sehingga dengan kaki ini terhukum dapat berdiri menyangga tubuh). Terhukum akan dibiarkan menderita haus dan rasa sakit bahkan gangguan dari mangsa hewan liar. Pamungkas dari proses kematian ini adalah dipatahkannya tulang-tulang kaki (shalb-salib/patahkan tulang mengeluarkan sumsum) yg akan mempercepat kematian. Inilah hukuman salib (pematahan tulang dan sumsum di pancang / tiang kayu). Jadi seseorang yg hanya mengalami pemakuan di tiang kayu namun tidak mengalami pematahan tulang dan pengeluaran sumsum maka tidak bisa dikatakan telah di hukum salib.
Inilah arti dan prosesi hukuman shalb (salib), dan pada artikel berikutnya (4) kita akan melihat apakah Nabi Isa. a.s. mengalami hukuman shalb (salib) itu.
4. Misi Rahasia Menyelamatkan Isa a.s. (Yesus)
Pilatus secara rahasia menolong Isa dengan menetapkan hari hukuman salib pada Jum’at siang (jam 12 siang) (Matius 27 : 46), dan pada jam 3 sore (jam 15) Isa diturunkan dari Tiang Salib dengan kondisi tampak “Mati”. Seperti yg telah lazim bahwa hukuman salib adalah hukuman mati secara perlahan (umumnya 3 hari) dan belum pernah ada yg mengalami kematian dlm hitungan jam. Lalu mengapa Isa diturunkan padahal baru 3 jam (nampak tergesa-gesa)?
Jawabannya karena dalam Taurat ada tertulis hukum :”Maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yg digantung terkutuk oleh Allah, janganlah engkau menajiskan tanah yg diberikan Tuhan Allahmu kepadamu menjadi milik pusakamu” (Ulangan 21:23).
Jadi dikarenakan menurut hitungan hari Yahudi bahwa Hari Raya Sabath telah mulai sejak hari Jum’at petang (jam 18), maka tidak boleh ada najis (mayat orang terkutuk) yg menodai kesucian hari Sabath. Oleh karena itu haruslah tidak boleh ada orang yg terpantek di kayu salib. Maka dari itu hukum Yahudi sendiri yg meminta Isa a.s. diturunkan secepatnya dari kayu salib.
Pada saat Isa dihukum salib ada juga dua penjahat yg dihukum berserta beliau, namun tidak seperti Isa, mereka masih nampak segar atau hidup, sehingga bagi mereka diperlakukan cara cepat untuk menghabisi nyawa mereka dan mereka di hukum salib (shalb) dengan mematahkan tulang-tulang kaki mereka (yg menyangga tubuh mereka). Sedangkan bagi Isa a.s. karena pada saat akan diturunkan kondisi beliau nampak terlihat mati maka beliau tidak dihukum salib (shalb – pematahan tulang-tulang). Hal ini nampaknya merupakan perwujudan dari ramalan suci (nubuatan) : “Ia melindungi segala tulangnya, tidak satu pun yg patah”. (Mazmur 34 : 21). Sedangkan bagi perajurit Romawi alasan mereka tidak mematahkan tulang belulang Isa a.s. adalah karena Jasad Isa a.s. nampak seperti yg sudah mati : “Melihat bahwa ia telah mati, mereka tidak mematahkan kakinya” (Yohanes 19 : 33).
Perlu diperhatikan bahwa dasar yg menyatakan bahwa Isa mati itu adalah hanya atas Melihat, tidak mendekati, apalagi menyentuh, sehingga bisa dipastikan lebih jauh apakah masih berdenyut nadinya alias mati sungguhan atau tidak? Karena hanya sekedar melihat itu tidak pasti dan inilah pangkal keragu-raguan Orang Yahudi kelak bahwa mereka sendiri tidak yakin bahwa dalam waktu tiga jam tersebut dan tanpa hukum shalb mereka telah memutuskan ajal Isa (membunuh Isa). Hal ini berhubungan dengan ucapan Isa sebelum dihukum, “Kamu akan melihat dan melihat, namun tidak merasa” (Matius 13:14).
Ketika Yohanes berkata bahwa tentara itu melihat, bahwa maksudnya mereka menduga bahwa Isa telah wafat. Jadi inilah cara Allah untuk menolong Isa. Dengan menserupakan beliau nampak seperti yg telah wafat dan hanya membiarkan tentara Romawi hanya melihat dan menduga-duga.
Allah menyelamatkan Isa a.s. dalam kondisi pingsannya dengan menampakan kepada Tentara Romawi dan Orang Yahudi bahwa mereka melihat Isa seperti dalam kondisi mati. Karena itulah tentara Romawi tidak mematahkan tulang sumsum Isa a.s.. Setelah tubuh Isa telah diturunkan dari tiang maka untuk memastikan Isa telah wafat maka seorang Tentara Romawi menggoreskan lembing nya ke sisi rusuk tubuh Isa a.s. dan setelah melihat tidak adanya respon gerakan dari tubuh Isa maka ia yakin bahwa Isa telah wafat. Namun….sebenarnya tidak demikian.
“Hanyalah seorang lasykar menikam rusuk Yesus dengan tombaknya, maka sekejap itu juga mengalir keluar darah dengan air” (Yahya 19 : 34). Adalah rahmat Allah SWT yg telah membuat tubuh manusia (Isa a.s.) pingsan karena menahan rasa sakit dan letih. Seseorang yg berada dalam kondisi pingsan mengakibatkan peredaran darahnya menjadi lamban dan tidak lancar. Dengan adanya pelukaan akibat goresan ujung lembing membuat peredaran darah lancar kembali dan memancarlah darah keluar, perlu diperhatikan bahwa hal ini (darah mengalir) hanya dapat terjadi pada tubuh yg mana jantungnya masih berdenyut (masih hidup). Dan perlu diperhatikan kata “Sekejap Itu Juga” menandakan bahwa darah memancar dengan cepat yg mana hal itu menunjukan bahwa sebenarnya Yesus/Isa masih hidup manakala diturunkan dan hanya pingsan (yg disangka telah mati oleh Yahudi dan Orang Romawi). Dr. W.B. Primrose, seorang ahli anastesi RS. Royal Glasgow dalam tulisan beliau dalam harian “Thinker Digest” mengatakan, “Bahwa air tersebut disebabkan oleh adanya gangguan syaraf pada pembuluh darah lokal akibat rangsangan yg berlebihan dari proses penyaliban”.
Perlu dicari tahu bahwa selain karena rasa sakit apakah gerangan yg membuat Isa jatuh pingsan dlm waktu yg singkat itu?
Adalah rahmat Allah SWT beliau menjadikan Isa pingsan karena menahan sakit, perih, dan lelah dari hukuman tiang salib, namun disaat yg sama dua orang penjahat yg turut dihukum masih nampak siuman, lalu sebab apakah Isa dalam waktu kurang dari tiga jam sudah jatuh tak sadarkan diri?
Jawaban yg logis bisa kita telusuri, pada Yohanes 19: 29-30 tertulis :”Di situ ada suatu benda penuh anggur asam (tertulis Vinegar-bukan wine). Maka mereka mencucukan bunga karang yg telah dicelupkan dalam anggur asam pada sebatang hyssop (tanaman semak yg harum untuk obat) lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam berkatalah ia :”sudah selesai”, lalu ia menundukan kepalanya dan menyerahkan nyawanya”. Adakah Vinegar ini telah berpengaruh kepada Yesus?
Vinegar memiliki efek stimulasi yg sementara sebagaimana obat amonia yg dicium dan bahkan dipakai untuk menstimulasi budak-budak pengayuh perahu kapal. Memberikan anggur yg dibumbui dengan Myrrh atau kemenyan kepada orang yg akan dihukum mati sebagai usaha untuk menghilangkan rasa sakit (efek narkotik) adalah sesuai dengan kebiasaan Yahudi, seperti yg tertulis : “Dia yg dieksekusi diberi sedikit kemenyan dicampur anggur dalam piala sehingga dia kehilangan kesadaran” (Sahn 43 – Kitab Talmud).
Pada saat menjelang penyaliban Serdadu Roma bukan saja membolehkan pemberian minuman narkotik ini bahkan salah satu dari mereka terbukti membantu meminumkannya pada Yesus (Matius 27:48, Markus 15:36, Lukas 23:36, Johanes 19:29). Vinegar yg disebutkan dlm Injil dalam bahasa Latin disebut Acetum/Acidus/Acere/Acida. Dalam budaya Persia dan Timur Tengah umumnya mengenal Minuman persembahan suci (Haoma Drink). Haoma Drink dibuat dari Juice tanaman Asclepias Acida. Efek minuman ini adalah membuat seseorang menjadi koma (mati suri). Varietas asclepias acida ini di Eropa disebut dengan “Swallowwort”. Untuk membuat ramuan Haoma Drink ini perlu keahlian agar takarannya tepat dan Orang-orang dari Golongan Yahudi Essene sangat mahir dalam bidang pengobatan/penyembuhan sangat mengenal ramuan minuman ini. Salah satu efek dari ramuan Swallowwort (Asclepias Acida) ini adalah Extreme sweating and a dry mouth, dan ini sesuai dengan apa yg di alami oleh Isa, “Yesus mengatakan: “Saya haus” (Yohanes 19:28).
Jadi para murid rahasia Yesus (Isa) dari golongan Essenes bekerja sama dengan Pilatus telah memberikan Haoma Drink ini kepada Isa a.s. sebelum beliau di paku di tiang salib dan ini merupakan rencana rahasia untuk menolong Isa. Dan akibat dari ramuan inilah beliau menjadi koma (mati suri) di tiang salib.
Setelah kita mengetahui apa sebab Yesus (Isa) mengalami pingsan yg demikian cepat dalam kurun waktu tiga jam di tiang salib, kini saya ingin mengajak anda kembali pada saat tubuh Isa masih berada di tiang salib.
Meski Injil menerangkan dengan berbeda-beda namun adalah suatu kepastian bahwa pada saat menjelang jam 15 (3 sore) terjadi gemuruh, guntur , gempa, serta langit pun menjadi gelap. Hal ini adalah suatu mukjizat yg mana Allah menampakan gejala alam ini untuk membuat ciut dan takut hati kaum Yahudi yg saat itu berpesta pora disekitar (dekat) lokasi tiang-tiang salib, yg serta merta hati mereka menjadi takut akan kutuk Tuhan atas perbuatan mereka dan lari berhamburan menyelamatkan diri.
Peristiwa ini adalah rencana Tuhan yg karenanya para murid “rahasia” Isa (yg bukan 12 orang itu-mereka semua melarikan diri karena takut) dapat mendekati tiang salib, menurunkan jasad beliau, dan mengurus beliau a.s. Adalah Nikodemus dan Yusuf Arimatea (murid Isa dari golongan Essenes) yg telah meminta jasad Yesus kepada Pilatus. Nikodemus, Yusuf Arimatea, Maria Magdalena, dan murid-murid rahasia lainnya dari Essenes lah yg menolong dan mengurus jasad Isa a.s. setelah diturunkan dari tiang salib (Markus 15:47). Perlu diingat bahwa kondisi dan situasi saat itu sangat genting, karena jika orang Yahudi mengetahui bahwa Isa masih hidup maka mereka akan mencoba untuk membunuh untuk yg kedua kali
Add comment Februari 7, 2007
Kepemimpinan
Kepemimpinan Sejati Kepemimpinan sesungguhnya tidak ditentukan oleh pangkat atau pun jabatan seseorang. Kepemimpinan adalah sesuatu yang muncul dari dalam dan merupakan buah dari keputusan seseorang untuk mau menjadi pemimpin, baik bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi lingkungan pekerjaannya, maupun bagi lingkungan sosial dan bahkan bagi negerinya. Hal ini dikatakan dengan lugas oleh seorang jenderal dari Angkatan Udara Amerika Serikat: ”I don’t think you have to be wearing stars on your shoulders or a title to be a leader. Anybody who wants to raise his hand can be a leader any time.” —General Ronal Fogleman, US Air Force— Kepemimpinan adalah sebuah keputusan dan lebih merupakan hasil dari proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri seseorang. Kepemimpinan bukanlah jabatan atau gelar, melainkan sebuah kelahiran dari proses panjang perubahan dalam diri seseorang. Ketika seseorang menemukan visi dan misi hidupnya, ketika terjadi kedamaian dalam diri (inner peace) dan membentuk bangunan karakter yang kokoh, ketika setiap ucapan dan tindakannya mulai memberikan pengaruh kepada lingkungannya, dan ketika keberadaannya mendorong perubahan dalam organisasinya, pada saat itulah seseorang lahir menjadi pemimpin sejati. Jadi pemimpin bukan sekedar gelar atau jabatan yang diberikan dari luar melainkan sesuatu yang tumbuh dan berkembang dari dalam diri seseorang. Kepemimpinan lahir dari proses internal (leadership from the inside out). Ketika pada suatu hari filsuf besar Cina, Lao Tsu, ditanya oleh muridnya tentang siapakah pemimpin yang sejati, maka dia menjawab: As for the best leaders, the people do not notice their existence. The next best, the people honour And praise. The next, the people fear, And the next the people hate. When the best leader’s work is done, The people say, ‘we did it ourselves’. Justru seringkali seorang pemimpin sejati tidak diketahui keberadaannya oleh mereka yang dipimpinnya. Bahkan ketika misi atau tugas terselesaikan, maka seluruh anggota tim akan mengatakan bahwa merekalah yang melakukannya sendiri. Pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat (encourager), motivator, inspirator, dan maximizer. Konsep pemikiran seperti ini adalah sesuatu yang baru dan mungkin tidak bisa diterima oleh para pemimpin konvensional yang justru mengharapkan penghormatan dan pujian (honor and praise) dari mereka yang dipimpinnya. Semakin dipuji bahkan dikultuskan, semakin tinggi hati dan lupa dirilah seorang pemimpin. Justru kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati (humble). Pelajaran mengenai kerendahan hati dan kepemimpinan sejati dapat kita peroleh dari kisah hidup Nelson Mandela. Seorang pemimpin besar Afrika Selatan, yang membawa bangsanya dari negara yang rasialis, menjadi negara yang demokratis dan merdeka. Saya menyaksikan sendiri dalam sebuah acara talk show TV yang dipandu oleh presenter terkenal Oprah Winfrey, bagaimana Nelson Mandela menceritakan bahwa selama penderitaan 27 tahun dalam penjara pemerintah Apartheid, justru melahirkan perubahan dalam dirinya. Dia mengalami perubahan karakter dan memperoleh kedamaian dalam dirinya. Sehingga dia menjadi manusia yang rendah hati dan mau memaafkan mereka yang telah membuatnya menderita selama bertahun-tahun. Seperti yang dikatakan oleh penulis buku terkenal, Kenneth Blanchard, bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Perubahan karakter adalah segala-galanya bagi seorang pemimpin sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan dan tantangan, dan visi serta misi yang jelas, seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati. Karakter Seorang Pemimpin Sejati Setiap kita memiliki kapasitas untuk menjadi pemimpin. Dalam tulisan ini saya memperkenalkan sebuah jenis kepemimpinan yang saya sebut dengan Q Leader. Kepemimpinan Q dalam hal ini memiliki empat makna. Pertama, Q berarti kecerdasan atau intelligence (seperti dalam IQ – Kecerdasan Intelektual, EQ – Kecerdasan Emosional, dan SQ – Kecerdasan Spiritual). Q Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan IQ—EQ—SQ yang cukup tinggi. Kedua, Q Leader berarti kepemimpinan yang memiliki quality, baik dari aspek visioner maupun aspek manajerial. Ketiga, Q Leader berarti seorang pemimpin yang memiliki qi (dibaca ‘chi’ – bahasa Mandarin yang berarti energi kehidupan). Makna Q keempat adalah seperti yang dipopulerkan oleh KH Abdullah Gymnastiar sebagai qolbu atau inner self. Seorang pemimpin sejati adalah seseorang yang sungguh-sungguh mengenali dirinya (qolbu-nya) dan dapat mengelola dan mengendalikannya (self management atau qolbu management). Menjadi seorang pemimpin Q berarti menjadi seorang pemimpin yang selalu belajar dan bertumbuh senantiasa untuk mencapai tingkat atau kadar Q (intelligence – quality – qi — qolbu) yang lebih tinggi dalam upaya pencapaian misi dan tujuan organisasi maupun pencapaian makna kehidupan setiap pribadi seorang pemimpin. Untuk menutup tulisan ini, saya merangkum kepemimpinan Q dalam tiga aspek penting dan saya singkat menjadi 3C , yaitu: 1. Perubahan karakter dari dalam diri (character change) 2. Visi yang jelas (clear vision) 3. Kemampuan atau kompetensi yang tinggi (competence) Ketiga hal tersebut dilandasi oleh suatu sikap disiplin yang tinggi untuk senantiasa bertumbuh, belajar dan berkembang baik secara internal (pengembangan kemampuan intrapersonal, kemampuan teknis, pengetahuan, dll) maupun dalam hubungannya dengan orang lain (pengembangan kemampuan interpersonal dan metoda kepemimpinan). Seperti yang dikatakan oleh John Maxwell: ”The only way that I can keep leading is to keep growing. The day I stop growing, somebody else takes the leadership baton. That is the way it always it.” Satu-satunya cara agar saya tetap menjadi pemimpin adalah saya harus senantiasa bertumbuh. Ketika saya berhenti bertumbuh, orang lain akan mengambil alih kepemimpinan tersebut.n
Add comment Februari 7, 2007













